<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Toko Islam Indonesia &#187; Sunah-Fitrah</title>
	<atom:link href="http://blog.tokoislam.info/category/sunah-fitrah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tokoislam.info</link>
	<description>Kumpulan Artikel &#124;herbal&#124;Islam&#124;Nasehat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 03:17:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Orang Kafir Sekarang Sudah Berjenggot, Kita Seharusnya Menyelisihi Mereka</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/bantahan-syubhat/orang-kafir-sekarang-sudah-berjenggot-kita-seharusnya-menyelisihi-mereka</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/bantahan-syubhat/orang-kafir-sekarang-sudah-berjenggot-kita-seharusnya-menyelisihi-mereka#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 02:44:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan-Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunah-Fitrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Sedikit Kerancuan] Ada yang berkata, ”Sekarang ini orang-orang Cina, para biksu, dan Yahudi ortodok juga memanjangkan jenggot. Kalau demikian memakai jenggot juga dapat dikatakan tasyabuh (menyerupai) orang kafir. Sehingga sekarang kita harus menyelisihi mereka dengan mencukur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- end META --><strong>Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. </em></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1729" title="jenggot" src="http://rumaysho.files.wordpress.com/2009/01/jenggot.jpg?w=101&amp;h=84" alt="jenggot" width="101" height="84" />[Sedikit Kerancuan] Ada yang berkata,<br />
”<em>Sekarang ini orang-orang Cina, para biksu, dan Yahudi ortodok juga memanjangkan jenggot. Kalau demikian memakai jenggot juga dapat dikatakan tasyabuh (menyerupai) orang kafir. Sehingga sekarang kita harus menyelisihi mereka dengan mencukur jenggot.</em>”</p>
<p>Jawaban dari pernyataan di atas telah dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam ta’liq (komentar) beliau terhadap kitab <em>Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim</em>, hal. 220, karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau rahimahullah mengatakan, <span id="more-376"></span></p>
<p>”Ini sungguh <a>kekeliruan yang besar</a>. Karena larangan ini berkaitan dengan memelihara jenggot. <strong>Jika saat ini orang-orang kafir menyerupai kita, maka tetap saja kita tidak boleh berpaling dari apa yang telah diperintahkan walaupun mereka menyamai kita.</strong> Di samping memelihara jenggot untuk menyelisihi orang kafir, memelihara jenggot adalah <strong>termasuk fitroh</strong> (yang tidak boleh diubah sebagaimana penjelasan di atas, pen). Sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘<em>Ada sepuluh fitroh, di antaranya memelihara (membiarkan) jenggot</em>’. Maka dalam masalah memelihara jenggot ada dua perintah yaitu untuk menyelisihi orang kafir dan juga termasuk fithroh.”</p>
<p>Juga jawaban lebih memuaskan lagi dapat dilihat pada dua Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa di Saudi Arabia, semacam komite fatwa MUI di Indonesia)</p>
<p><strong>[Fatwa Pertama] Fatwa no. 2258. </strong></p>
<p><strong>Pertanyaan </strong>: “Saya pernah mendengar bahwa memelihara (membiarkan) jenggot adalah wajib. Apakah pendapat ini benar? Jika ini benar, aku mohon agar dijelaskan mengenai sebab wajibnya hal ini. Dari yang saya ketahui ketika membaca salah satu buku bahwa sebab wajibnya memelihara jenggot adalah karena kita diharuskan melakukan yang berkebalikan dengan apa yang dilakukan orang kafir (maksudnya kita diperintahkan menyelisihi orang kafir, pen). Akan tetapi saat ini orang-orang kafir malah memelihara jenggot, sehingga saya merasa tidak puas dengan alasan ini. Aku mohon agar aku diberi penjelasan mengenai sebab kenapa kita diperintahkan memelihara jenggot?”</p>
<p>Jawaban :<br />
Alhamdulillah wahdah wash sholatu was salamu ‘ala rosulihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam. Wa ba’du<br />
Sesungguhnya memelihara (membiarkan) jenggot adalah <strong>wajib </strong>dan mencukurnya adalah <strong>haram</strong>. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan selainnya dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”<em>Selisilah orang musyrik, biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.</em>” Begitu juga dalam riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”<em>Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.</em>” (Hal ini berarti) terus menerus dalam mencukur jenggot termasuk al kabair (dosa besar). Maka wajib bagi seseorang untuk menasehati orang yang mencukur jenggot dan mengingkarinya. …<br />
Dan bukanlah maksud menyelisihi majusi dan orang musyrik adalah <strong>menyelisihi mereka di semua hal termasuk di dalamnya adalah hal yang benar yang sesuai dengan fithroh dan akhlaq yang mulia. </strong>Akan tetapi yang dimaksudkan dengan menyelisihi mereka adalah <strong>menyelisihi apa yang ada pada mereka yang telah menyimpang dari kebenaran dan yang telah keluar dari fithroh yang selamat serta akhlaq yang mulia.</strong><br />
Dan sesuatu yang telah diselisihi oleh orang majusi, orang musyrik, dan orang kafir lainnya adalah dalam masalah mencukur jenggot. Dengan melakukan hal ini, mereka telah menyimpang dari kebenaran dan keluar dari fithroh yang bersih serta <strong>telah menyelisihi ciri khas para Nabi dan Rasul</strong>. Maka menyelisihi mereka dalam hal ini adalah wajib yaitu dengan memelihara (membiarkan) jenggot dan memendekkan kumis. Hal ini dilakukan dalam rangka mengikuti petunjuk para Nabi dan Rasul dan mengikuti apa yang dituntunkan oleh fitroh yang bersih (selamat). Telah terdapat dalil pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “<em>Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air</em>.”  (HR. Ahmad, Muslim dan lainnya) …<br />
Jika (pada saat ini) orang kafir malah memelihara jenggot, maka ini bukan berarti boleh bagi kaum muslimin untuk mencukur jenggot mereka. Sebagaimana dalam penjelasan di atas bahwasanya bukanlah yang dimaksudkan adalah menyelisihi mereka dalam segala hal. Namun, <strong>yang dimaksudkan adalah menyelisihi mereka pada hal-hal yang mereka telah menyimpang dari kebenaran dan telah keluar dari fithroh yang selamat.</strong><br />
<em>Wa billahit tawfiq wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.</em><br />
Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’<br />
Anggota : Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghodayan<br />
Wakil Ketua : Abdur Rozaq Afifi<br />
Ketua : Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz</p>
<p><strong>[Fatwa Kedua] Fatwa no. 4988 (yang sengaja kami ringkas agar tidak terlalu panjang)</strong><br />
Memelihara jenggot termasuk <strong>tuntutan fitroh</strong> sebagaimana terdapat pada kurun pertama dan <strong>juga hal ini merupakan syari’at Nabi-nabi terdahulu sebagaimana merupakan syari’at Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. </strong>Syari’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umum bagi semua makhluk dan wajib bagi mereka untuk melaksanakannya hingga hari kiamat. Allah telah berfirman mengenai <strong>Nabi Musa dan saudaranya Harun ‘alaihimas salam</strong> serta kepada kaumnya Bani Israil ketika mereka menyembah anak sapi,</p>
<blockquote><p>وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي (90) قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى (91) قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا (92) أَلَّا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي (93) قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي (94)<br />
“Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan ta’atilah perintahku”. Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami”. Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, <strong>janganlah kamu pegang janggutku</strong> dan jangan (pula) kepalaku. sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”.” (QS. Thoha : 90-94)</p></blockquote>
<p><strong>Maka lihatlah, memelihara jenggot adalah sesuatu yang disyari’atkan pada syari’at Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam. </strong>Kemudian Nabi Isa ‘alaihis salam membenarkan ajaran yang ada pada Taurat, <strong>maka lihyah (jenggot) juga merupakan syari’at Nabi Isa ‘alaihis salam</strong>. Mereka semua (Nabi Musa, Harun dan Isa) adalah para rasul Bani Israil yaitu Yahudi dan Nashrani. Jadi, tatkala orang Yahudi dan Nashrani meninggalkan memelihara jenggot, maka mereka telah salah (rusak) sebagaimana mereka telah rusak tatkala meninggalkan ajaran tauhid dan syari’at Nabi-nabi mereka. Mereka juga telah menggugurkan perjanjian yang seharusnya mereka ambil yaitu untuk mengimani Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa saja dari Yahudi dan Nashrani yang kembali pada ajaran yang sesuai dengan syari’at setiap Nabi di antaranya adalah memelihara jenggot, maka kita tidaklah menyelisihi mereka dalam hal ini karena mereka telah kembali kepada sebagian kebenaran. Sebagaimana pula kita tidaklah menyelisihi mereka jika mereka kembali pada tauhid dan kembali beriman kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan jika memang mereka beriman, kita akan menolong (menguatkan) mereka dan memujinya disebabkan keimanan ini serta kita akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.<br />
Wa billahit tawfiq wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.<br />
Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’<br />
Anggota : Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghodayan<br />
Wakil Ketua : Abdur Rozaq Afifi<br />
Ketua : Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz</p>
<p>Demikianlah Fatwa Kedua Lajnah Ad Da’imah. Semoga perkataan ulama dan fatwa-fatwa di atas bisa menjawab sedikit kerancuan yang menyebar di tengah-tengah masyarakat.<br />
<em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.<br />
</em></p>
<p><em>Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya<br />
Muhammad Abduh Tuasikal</em></p>
<p><em>SUMBER : <a href="http://rumaysho.wordpress.com/2009/02/01/orang-kafir-sekarang-sudah-berjenggot-kita-seharusnya-menyelisihi-mereka/#comment-536" target="_blank">http://rumaysho.wordpress.com/2009/02/01/orang-kafir-sekarang-sudah-berjenggot-kita-seharusnya-menyelisihi-mereka/#comment-536</a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/bantahan-syubhat/orang-kafir-sekarang-sudah-berjenggot-kita-seharusnya-menyelisihi-mereka/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mencukur Bulu Ketiak Atau Memotongnya</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-mencukur-bulu-ketiak-atau-memotongnya</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-mencukur-bulu-ketiak-atau-memotongnya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 04:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunah-Fitrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Jibrin Pertanyaan: Apakah hukum mencukur bulu kedua ketiak atau memotongnya bagi orang yang tidak kuat (menahan rasa sakit ketika-penj.) mencabutnya?, tolong berikan kami fatwa mengenai hal itu, semoga Allah mengganjar pahala bagi anda. Jawaban: Tidak apa-apa melakukan hal itu sebab tujuan utama adalah menghilangkannya sehingga keringat dan kotoran tidak menempel lalu menimbulkan pembusukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Ibnu Jibrin</p>
<p>Pertanyaan: Apakah hukum mencukur bulu kedua ketiak atau memotongnya bagi orang yang tidak kuat (menahan rasa sakit ketika-penj.) mencabutnya?, tolong berikan kami fatwa mengenai hal itu, semoga Allah mengganjar pahala bagi anda.<br />
Jawaban:<span id="more-327"></span><br />
Tidak apa-apa melakukan hal itu sebab tujuan utama adalah menghilangkannya sehingga keringat dan kotoran tidak menempel lalu menimbulkan pembusukan dan nanah yang mengganggu orang yang menciumnya karena baunya yang tidak sedap.  Karena ia tumbuh di tempat yang tipis maka pada asalnya harus dicabut dan hal ini memudahkan dan biasa (alami), tidak menyusahkan apalagi menyulitkan. Namun, bila dia tidak kuat mencabutnya, boleh memotongnya dengan gunting, menghilangkannya dengan tawas dan mencukurnya dengan pisau cukur, atau semisalnya. Wallahu a&#8217;lam.<br />
Sumber: Diucapkan dan didiktekan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-mencukur-bulu-ketiak-atau-memotongnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mencukur Jenggot</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-mencukur-jenggot</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-mencukur-jenggot#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 08:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunah-Fitrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Utsaimin Pertanyaan: Mohon pencerahan dari yang mulia mengenai penjelasan hukum mencukur jenggot atau mengambil sesuatu darinya serta apa saja batasan jenggot yang syar&#8216;i itu? Jawaban: Mencukur jenggot diharamkan karena merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam . Dalam hal ini, beliau bersabda, أَعْفُوْااللِّحَىوَأَحْفُواالشَّوَارِبَ &#8220;Perbanyaklah (perlebatlah) jenggot dan potonglah kumis (hingga habis).&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Syaikh Ibnu Utsaimin</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><em><span><span lang="IN">Mohon </span></span><span>pencerahan</span></em><em><span lang="IN"> dari yang mulia mengenai penjelasan hukum mencukur jenggot atau mengambil sesuatu darinya serta apa saja batasan jenggot yang syar</span><span>&#8216;</span></em><em><span lang="IN">i itu?</span></em><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><strong>Jawaban:</strong></span><span id="more-27"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Mencukur jenggot diharamkan karena merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah </span></span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span><span lang="IN">. Dalam hal ini, beliau bersabda,</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal">أَعْفُوْااللِّحَىوَأَحْفُواالشَّوَارِبَ</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>&#8220;</span><em><span><span lang="IN">Perbanyaklah (perlebatlah) jenggot dan potonglah kumis (hingga habis).</span></span></em><span>&#8221; (</span>Sunan an-Nasa&#8217;i, kitab az-Zinah (5046)).</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Demikian pula (diharamkan), karena hal itu keluar dari petunjuk (cara </span></span><span>hidup</span><span><span lang="IN">) para Rasul menuju cara hidup orang-orang majusi dan orang-orang musyrik.</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Sedangkan batasan jenggot sebagaimana yang disebutkan oleh ahli bahasa, yaitu (mencakup) bulu wajah, dua tulang dagu dan dua pipi. Artinya, bahwa setiap yang tumbuh di atas dua pipi dan dua tulang dagu serta dagu maka ia termasuk jenggot. </span></span></p>
<p>Adapun mengambil sesuatu darinya termasuk ke dalam perbuatan maksiat karena Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, أعفوا<span><strong>اللحى</strong></span> <strong></strong>(perbanyaklah atau perteballah jenggot); <span><strong>أرخوااللحى</strong></span> <strong></strong><span lang="IN"><span>(biarkanlah jenggot memanjang);<strong> </strong></span><strong>وفروااللحى</strong></span> <strong></strong><span><span lang="IN">(perbanyaklah jenggot); </span></span><span><strong>أوفوا</strong></span><span><strong> </strong></span><span><strong>اللحى</strong></span><span><strong> </strong><span>(sempurnakanlah -biarkan tumbuh lebat- jenggot).</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Ini semua menunjukkan bahwa tidak boleh hukumnya mengambil sesuatu darinya, akan tetapi perbuatan-perbuatan maksiat terhadap hal itu berbeda-beda; mencukur tentu lebih besar dosanya dari sekedar mengambil sesuatu darinya karena ia merupakan penyimpangan yang lebih serius dan jelas daripada mengambil sesuatu saja darinya.</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Rujukan:</strong></p>
<p class="MsoNormal">Kitab Risalah Fi Shifati Shalatin Nabi, karya Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 31.</p>
<p class="MsoNormal">Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kategori</strong>: Sunnah-Sunnah Fitrah<br />
<strong>Sumber</strong>: http://fatwa-ulama.com</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-mencukur-jenggot/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memelihara Jenggot</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-memelihara-jenggot</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-memelihara-jenggot#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 07:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunah-Fitrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz Pertanyaan: Apakah memelihara jenggot wajib hukumnya atau hanya boleh? Apakah mencukurnya berdosa atau hanya merusak Dien? Apakah mencukurnya hanya boleh bila disertai dengan memelihara kumis? Jawaban: Mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas, kami katakan, terdapat hadits yang shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلم yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://abuubaidah.files.wordpress.com/2008/07/janggut.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-25" src="http://abuubaidah.files.wordpress.com/2008/07/janggut.gif?w=93" alt="" width="93" height="83" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Syaikh Ibnu Baz</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><em><span>Apakah memelihara jenggot wajib hukumnya atau hanya boleh? Apakah mencukurnya berdosa atau hanya merusak Dien? Apakah mencukurnya hanya boleh bila disertai dengan memelihara kumis?</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Jawaban:</span><span id="more-24"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas, kami katakan, terdapat hadits yang shahih dari Nabi </span><span>صلی الله عليه وسلم</span><em><span> </span></em><span>yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab <em>Shahih </em>keduanya dari hadits Ibnu Umar </span><span>رضي الله عنه</span><span>, dia berkata, Rasulullah </span><span>صلی الله عليه وسلم</span><em><span> </span></em><span>bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal">خَالِفُواالْمُشْرِكِيْنَأَحْفُواالشَّوَارِبَوَأَوْفُوااللِّحَى</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>&#8220;<em>Selisihilah orang-orang musyrik; potonglah kumis (hingga habis) dan sempurnakan jenggot (biarkan tumbuh lebat-penj.).</em>&#8221; </span>(Shahih al-Bukhari, kitab al-Libas (5892, 5893); Shahih Muslim, kitab ath-Thaharah, (259))</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Di dalam <em>Shahih Muslim </em>dari Abu Hurairah y, dia berkata, Rasulullah </span><span>صلی الله عليه وسلم</span><em><span> </span></em><span>bersabda (artinya), &#8220;<em>Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot memanjang, selisihilah orang-orang Majusi.</em>&#8220;</span><em><span> </span></em>(Shahih Muslim, kitab ath-Thaharah (260)).</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Imam an-Nasa&#8217;i di dalam <em>Sunan</em>nya mengeluarkan hadits dengan sanad yang shahih dari Zaid bin Arqam y, dia berkata, Rasulullah </span><span>صلی الله عليه وسلم</span><em><span> </span></em><span>bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal">مَنْلَمْيَأْخُذْمِنْشَارِبِهِفَلَيْسَمِنَّا</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>&#8220;<em>Barangsiapa yang tidak pernah mengambil dari kumisnya (memotongnya), maka dia bukan termasuk dari golongan kami.</em>&#8220;</span><em><span> </span></em>(Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Adab (2761); Sunan an-Nasa&#8217;i, kitab ath-Thaharah (13) dan kitab az-Zinah (5047)).</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Al-&#8217;Allamah Besar dan al-Hafizh terkenal, Abu Muhammad bin Hazm berkata, &#8220;Para ulama telah bersepakat bahwa memotong kumis dan membiarkan jenggot tumbuh adalah fardhu (wajib).&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Hadits-hadits tentang hal ini dan ucapan para ulama perihal memotong habis kumis dan memperbanyak jenggot, memuliakan dan membiarkannya memanjang banyak sekali, sulit untuk mengkalkulasi kuantitasnya dalam risalah singkat ini.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Dari hadits-hadits di muka dan nukilan ijma&#8217; oleh Ibnu Hazm diketahui jawaban terhadap ketiga pertanyaan di atas, ulasan ringkas-nya; bahwa memelihara, memperbanyak dan membiarkan jenggot memanjang adalah fardhu, tidak boleh ditinggalkan sebab Rasulullah memerintahkan demikian sementara perintahnya mengandung makna wajib sebagaimana firman Allah</span> <span>سبحانه و تعالى</span><span> (artinya), &#8220;<em>Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.</em>&#8221; (Al-Hasyr: 7).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>Demikian pula, menggunting (memotong) kumis wajib hukum-nya akan tetapi memotong habis adalah lebih afdhal (utama), sedang-kan memperbanyak atau membiarkanya begitu saja, maka tidak boleh hukumnya karena bertentangan dengan sabda Nabi </span><span>صلی الله عليه وسلم</span><span>, </span><span><strong>قصوا</strong></span><span><strong> </strong></span><span><strong>الشوارب</strong></span><span><strong> </strong></span><span>(potonglah kumis); </span><span><strong>أحفوا</strong></span><span><strong> </strong></span><span><strong>الشوارب</strong></span><span><strong> </strong></span><span>(potonglah kumis sampai habis); </span><span><strong>جزوا</strong></span> <span>الشوارب</span> <span>(potonglah kumis); </span><span><strong>من</strong></span> <span>لم</span> <span>يأخذ</span> <span>منشاربه</span> <span>فليس</span> <span>منا</span> <span><span lang="IN">(Barangsiapa yang tidak mengambil dari kumisnya (memotongnya) maka dia bukan terma-suk dari golongan kami). </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Keempat lafazh hadits tersebut, semuanya terdapat di dalam riwayat-riwayat hadits yang shahih dari Nabi </span></span><span>صلی الله عليه وسلم</span><span><span lang="IN">, sedangkan pada lafazh yang terakhir tersebut terdapat ancaman yang serius dan peringatan yang tegas sekali. Hal itu kemudian mengandung konsekuensi wajibnya seorang Muslim berhati-hati terhadap larangan Allah dan RasulNya dan bersegera menjalankan perintah Allah dan RasulNya.</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Dari hal itu juga </span></span><span>diketahui</span><span><span lang="IN"> bahwa memperbanyak kumis dan membiarkannya merupakan suatu perbuatan dosa dan maksiat. Demikian pula, mencukur jenggot dan memotongya termasuk perbuatan dosa dan maksiat yang dapat mengurangi iman dan memperlemahnya serta dikhawatirkan pula ditimpakannya ke-murkaan Allah dan azabNya.</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Di dalam </span></span><span>hadits</span><span><span lang="IN">-hadits yang telah disebutkan di atas terdapat petunjuk bahwa memanjangkan kumis dan mencukur jenggot serta memotongnya termasuk perbuatan menyerupai orang-orang majusi dan orang-orang musyrik padahal sudah diketahui bahwa menye-rupai mereka adalah perbuatan yang munkar, tidak boleh dilakukan berdasarkan sabda Nabi </span></span><span>صلی الله عليه وسلم</span><span><span lang="IN">, </span></span></p>
<p class="MsoNormal">مَنْتَشَبَّهَبِقَوْمٍفَهُوَمِنْهُمْ</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span>&#8220;</span><em><span><span lang="IN">Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka.</span></span></em><span>&#8220;</span><em><span> </span></em>(Sunan Abu Daud, kitab al-Libas (4031); Musnad Ahmad (5093, 5094, 5634)).</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3"><span><span lang="IN">Saya berharap jawaban ini cukup dan memuaskan. <em>Wallahu wa-liyyut taufiq. Washallallahu wa sallam </em></span></span><span>&#8216;</span><em><span><span lang="IN">ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbih</span></span></em><span><span lang="IN">.</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Rujukan:</strong></p>
<p class="MsoNormal">Kumpulan Fatwa-fatwa, Juz III, hal. 362, 363 dari Syaikh Bin Baz.</p>
<p class="MsoNormal">Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Sumber</strong>: http://fatwa-ulama.com</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-memelihara-jenggot/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memanjangkan Kuku</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-memanjangkan-kuku</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-memanjangkan-kuku#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 07:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sunah-Fitrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Utsaimin Pertanyaan: Apakah hukum syariat terhadap orang yang memanjangkan seluruh kukunya atau sebagiannya? Jawaban: Memanjangkan kuku jika tidak haram, minimal makruh hukumnya, sebab Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menentukan masa memotong kuku agar tidak dibiarkan di atas 40 hari. (Shahih Muslim, Kitab ath-Thaharah (258)). Adalah aneh sekali bilamana mereka yang mengklaim sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Syaikh Ibnu Utsaimin</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="textbody"><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Apakah hukum syariat terhadap orang yang memanjangkan seluruh kukunya atau sebagiannya?</em></p>
<p class="textbody">
<p class="default"><strong>Jawaban:</strong><span id="more-22"></span><br />
Memanjangkan kuku jika tidak haram, minimal makruh hukumnya, sebab Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menentukan masa memotong kuku agar tidak dibiarkan di atas 40 hari. (Shahih Muslim, Kitab ath-Thaharah (258)).</p>
<p>Adalah aneh sekali bilamana mereka yang mengklaim sebagai kaum metropolis dan berperadaban membiarkan kuku-kuku mereka padahal itu membawa kotoran dan konsekuensi logisnya bahwa manusia yang seperti ini malah menyerupai binatang.</p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="default" style="text-align:right;" align="right"><span> </span></p>
<p class="default"><em>&#8220;Sesuatu yang ditumpahkan darahnya (disembelih) dan disebutkan nama Allah (padanya), maka makanlah ia. Bukanlah gigi dan kuku&#8230;(hingga ucapan beliau-penj.) adapun gigi, maka ia termasuk tulang sedangkan (memelihara) kuku adalah cara hidup orang-orang Habasyah (Ethiophia).&#8221; </em>(Shahih al-Bukhari, kitab asy-Syirkah (2507); Shahih Muslim, kitab al-Adhahi (1968))</p>
<p>Yang dimaksud, bahwa mereka itu menjadikan kuku-kuku tersebut sebagai pisau untuk menyembelih dan memotong daging atau selain itu. Ini semua merupakan cara hidup mereka yang lebih mirip dengan ala hidup binatang.</p>
<p class="textbody"><strong>Sumber:</strong><br />
Kitab ad-Da&#8217;wah, vol. V, dari Syaikh Ibnu Utsaimin, Jld. II, hal 79, 80.<br />
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.</p>
<p class="textbody">
<p class="MsoNormal"><strong>Sumber</strong>: http://fatwa-ulama.com</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/sunah-fitrah/hukum-memanjangkan-kuku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

