<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Toko Islam Indonesia &#187; Puasa-Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://blog.tokoislam.info/category/puasa-ramadhan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tokoislam.info</link>
	<description>Kumpulan Artikel &#124;herbal&#124;Islam&#124;Nasehat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 03:17:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Fatwa Ramadhan: Hukum Bermain Musik di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/fatwa-ramadhan-hukum-bermain-musik-di-bulan-ramadhan</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/fatwa-ramadhan-hukum-bermain-musik-di-bulan-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 02:13:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Soal: Kami adalah personil dari  grup musik, kami bermain musik di siang maupun di malam hari pada bulan Ramadhan. Apakah hukum perbuatan ini, diterimakah puasa kami? Jawab: Telah diketahui bahwa musik hukumnya tidak boleh, baik di Ramadhan maupun di luar Ramadhan, namun di Ramadhan dosanya lebih besar, hal ini karena kehormatan bulan Ramadhan. Adapun puasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Soal:</strong></p>
<p>Kami adalah personil dari  grup musik, kami bermain musik di siang maupun di malam hari pada bulan Ramadhan. Apakah hukum perbuatan ini, diterimakah puasa kami?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><span id="more-262"></span></p>
<p>Telah diketahui bahwa musik hukumnya tidak boleh, <strong>baik di Ramadhan maupun  di luar Ramadhan</strong>, namun di Ramadhan dosanya lebih besar, hal ini karena  kehormatan bulan Ramadhan. Adapun puasanya tetap sah, <em>insya Allah.</em></p>
<p>Adapun dalil tentang haramnya bermain musik adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari di kitab shahihnya yang menceritakan ada sejumlah orang di akhir zaman nanti menghalalkan zina, sutera, <em>khamr</em> (segala hal yang  memabukkan) dan <strong><span style="text-decoration:underline;">alat musik</span></strong>, Allah menenggelamkan mereka ke bumi. Selain itu masih banyak dalil-dalil lain yang menerangkan tentang perkara ini. Barang siapa menghendaki untuk membahas secara detail perkara ini silakan merujuk ke kitab <em>ighatsatul lahfan</em> yang ditulis oleh Imam Ibnul Qoyyim  dan <em>Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> juz sebelas.  <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Penerjemah: Sigit Hariyanto<br />
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar<br />
<a title="Hukum Musik di Bulan Ramadhan" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-bermain-musik-bulan-ramadhan.html">Artikel www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/fatwa-ramadhan-hukum-bermain-musik-di-bulan-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Dibolehkan Ketika Puasa (1)</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/yang-dibolehkan-ketika-puasa-1</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/yang-dibolehkan-ketika-puasa-1#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 01:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Bagi hamba yang masih memiliki tabiat baik pasti mengetahui bahwa Allah selalu menginginkan kemudahan dan bukan menginginkan kesulitan bagi hamba-Nya. Dalam perihal puasa, pembuat syariat -yaitu Allah ta’ala- juga menginginkan demikian dan ingin menghilangkan kesulitan dari hamba-Nya. Berikut ini adalah beberapa hal yang dibolehkan oleh syari’at ini dan tidak membatalkan puasa. 1. Masuk Waktu Fajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi hamba yang masih memiliki tabiat baik pasti mengetahui bahwa Allah selalu menginginkan kemudahan dan bukan menginginkan kesulitan bagi hamba-Nya. Dalam perihal puasa, pembuat syariat -yaitu Allah <em>ta’ala- </em>juga menginginkan demikian dan ingin menghilangkan kesulitan dari hamba-Nya. Berikut ini adalah beberapa hal yang dibolehkan oleh syari’at ini dan tidak membatalkan puasa.</p>
<p><strong>1. Masuk Waktu Fajar Dalam  Keadaan Junub</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menemui waktu fajar dalam  keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> mandi setelah fajar dan tetap berpuasa.</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari dibawakan Bab ‘<em>Orang Berpuasa Menemui Waktu Shubuh  dalam Keadaan Junub</em>‘. ‘Aisyah dan Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata,</p>
<p class="arab" align="right">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.</em>” (HR. Bukhari no. 1926)</p>
<p>An Nawawi juga membawakan Bab dalam <em>Shohih Muslim</em> ‘<em>Sahnya puasa  ketika seseorang menemui fajar dalam keadaan junub’.</em> Istri tercinta Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>berkata,</p>
<p class="arab" align="right">قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan berpuasa.</em>”  (HR. Muslim no. 1109)<span id="more-257"></span></p>
<p><strong>2. Bersiwak Ketika  Berpuasa</strong></p>
<p>Bersiwak adalah sesuatu yang dianjurkan secara syar’i sebagaimana sabda  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" align="right">لَوْلاَ  أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ</p>
<p>“<em>Seandainya  tidak memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk menyikat gigi  (bersiwak) setiap kali berwudhu.</em>” (HR. Bukhari no. 27)</p>
<p>Dari hadits di atas terlihat bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mengkhususkan perintah bersiwak untuk orang yang berpuasa tanpa yang lainnya. Seandainya bersiwak adalah pembatal puasa, tentu saja hal ini akan dijelaskan oleh beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan beritanya sampai  kepada kita.</p>
<p>Para pakar fiqih telah bersepakat tentang bolehnya bersiwak untuk orang yang berpuasa kecuali Syafi’iyah dan Hanabilah di mana mereka menganjurkan untuk meninggalkan bersiwak setelah waktu <em>zawal</em> (waktu matahari  tergelincir ke barat). (Lihat <em>Shohih Fiqih Sunnah</em>, 2/117)</p>
<p>Namun, yang lebih tepat karena tidak ada dalil yang melarang untuk bersiwak, maka hal ini dibolehkan di setiap waktu ketika berpuasa.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Yang benar adalah siwak  dianjurkan bagi orang yang berpuasa mulai dari awal hingga akhir siang.” (<em>Majmu’ Fatwa wa Rosa’il  Ibnu ‘Utsaimin</em>, 17/259, Asy Syamilah). Dalil dari hal ini yaitu hadits dari  ‘Aisyah dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai keutamaan  bersiwak,</p>
<p class="arab" align="right">السِّوَاكُ  مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ</p>
<p>“<em>Bersiwak itu  akan membuat mulut bersih dan diridhoi oleh Allah.</em>” (Diriwayatkan oleh Bukhari [no.27] tanpa sanad. Juga diriwayatkan oleh Asy Syafi’i, Ahmad, Ad Darimi, An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam <em>Misykatul Mashobih</em> mengatakan  bahwa hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Penjelasan di atas adalah mengenai bersiwak yaitu menggunakan kayu siwak. Adapun menyikat gigi menggunakan pasta gigi yang -tentunya memiliki rasa (menyegarkan) dan beraroma-, maka sebaiknya tidak dilakukan sering-sering karena siwak tentu saja berbeda dengan sikat gigi yang beraroma.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah ta’ala</em> ditanya:  Apa hukum menggunakan sikat gigi bagi orang yang berpuasa di siang hari  Ramadhan?</p>
<p>Syaikh <em>rahimahullah </em>menjawab: Menggunakan sikat gigi ketika puasa tidaklah masalah jika tidak masuk ke dalam perut. Akan tetapi lebih baik sikat gigi tidak digunakan ketika puasa karena sikat gigi memiliki pengaruh sangat kuat hingga bisa mempengaruhi bagian dalam tubuh dan kadang seseorang tidak merasakkannya. Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (memasukkan air  dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa”. </em>Maka lebih utama adalah orang yang berpuasa tidak menyikat gigi (dengan pasta). Waktu untuk menyikat gigi sebenarnya masih lapang. Jika seseorang mengakhirkan untuk menyikat gigi hingga waktu berbuka, maka dia berarti telah menjaga diri dari perkara yang dapat merusak puasanya. (<em>Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, </em>17/261-262)</p>
<p><strong>3. Berkumur-kumur dan Memasukkan  Air ke Dalam Hidung </strong></p>
<p>Ketika berpuasa, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga  berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung, namun tidak sampai  berlebih-lebihan. At Tirmidizi membawakan Bab ‘<em>Dimakruhkannya  berlebih-lebihan dalam beristinsyaq (memasukkan dalam air hidung) ketika  berpuasa</em>‘. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" align="right">أَسْبِغِ  الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ  أَنْ تَكُونَ صَائِمً</p>
<p>“<em>Sempurnakanlah wudhu dan basuhlah celah-celah jari. Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (memasukkan air dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa.</em>” (HR. Abu  Daud no. 142, Tirmidzi no. 788, An Nasa’i no. 87, Ibnu Majah no. 407. Dikatakan <em>shohih</em> oleh Syaikh Al Albani)</p>
<p>Juga tidak mengapa jika orang yang berpuasa berkumur-kumur meski tidak  karena wudhu dan mandi.</p>
<p>Jika masih ada sesuatu yang basah –yang tersisa sesudah berkumur-kumur- di dalam mulutnya lalu tertelan, maka itu juga tidak membatalkan puasanya karena sulit bagi kita menjaga diri dari hal ini.</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan, “Jika dikhawatirkan sehabis bersiwak terdapat sesuatu yang basah berada di mulut (seperti air yang tersisa sesudah berkumur-kumur masih ada di mulut), maka itu tidak membatalkan puasa walaupun sesuatu yang basah tersebut ikut tertelan.” (<em>Fathul Bari</em>, 6/183,  Asy Syamilah)</p>
<p><strong>4. Bercumbu (<em>Mubasyaroh</em>)  dan Mencium Istri Ketika Puasa Bagi Orang yang Mampu Menahan Syahwatnya</strong></p>
<p>Dalam <em>Shohih Bukhari </em>dibawakan Bab ‘<em>Mencumbu Istri Bagi Orang  yang Berpuasa</em>‘. An Nawawi dalam <em>Shohih Muslim</em> membawakan Bab ‘<em>Penjelasan  bahwa mencium istri ketika puasa tidaklah terlarang bagi orang yang syahwatnya  tidak begitu menggelora</em>‘.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, beliau berkata,</p>
<p class="arab" align="right">كَانَ  النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ ، وَهُوَ صَائِمٌ ،  وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لإِرْبِهِ .</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium dan mencumbu istrinya sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berpuasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan demikian karena beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya.</em>” (HR. Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106)</p>
<p><em>Mubasyaroh</em> adalah saling bersentuhnya  kulit (bagian luar) antara suami istri selain jima’ (bersetubuh), seperti  mencium. (<em>Shohih Fiqih Sunnah</em>, 2/111)</p>
<p>Terdapat sebuah riwayat dari Abdur Rozaq dengan sanad yang <em>shohih</em> yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam <em>Al Fath</em>. Masyruq bertanya pada  ‘Aisyah,</p>
<p class="arab" align="right">مَا  يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ اِمْرَأَته صَائِمًا ؟ قَالَتْ كُلُّ شَيْء إِلَّا  الْجِمَاعَ</p>
<p>“<em>Apa yang dibolehkan bagi seseorang terhadap istrinya ketika puasa? ‘Aisyah menjawab, ‘Segala sesuatu selain jima’ (bersetubuh)’.</em>”  (Riwayat ini disebutkan dalam <em>Fathul Bari</em>, 6/176, Asy Syamilah. Lihat <em>Mushonnaf  Abdur Rozaq </em>no. 7439, Asy Syamilah)</p>
<p><strong>Apakah yang Tua dan  Muda Boleh Mencumbu (<em>Mubasyaroh</em>) Atau Mencumbu Istrinya Ketika Puasa?</strong></p>
<p>An Nawawi berkata, “Adapun orang yang bergejolak syahwatnya, maka haram baginya melakukan semacam ini, menurut pendapat yang paling kuat dari Syafi’iyah. Ada pula yang mengatakan bahwa hal semacam ini dimakruhkan yaitu <em>makruh  tanzih</em> (tidak sampai haram).</p>
<p>Sedangkan Al Qodhi mengatakan, “Sekelompok sahabat, tabi’in, Ahmad, Ishaq dan Daud membolehkan secara mutlak bagi orang yang berpuasa untuk melakukan semacam ini. Adapun Imam Malik memakruhkan hal ini secara mutlak. Ibnu Abbas, Imam Abu Hanifah, Ats Tsauriy, Al Auza’i dan Imam Asy Syafi’i melarang hal ini bagi pasangan muda dan dibolehkan bagi yang sudah berusia senja. Pendapat terakhir ini juga merupakan salah satu pendapat dari Imam Malik. Ibnu Wahb meriwayatkan dari Malik <em>rahimahullah</em> tentang bolehnya  hal ini ketika melakukan puasa sunnah dan tidak bolehkan ketika melakukan puasa  wajib.</p>
<p>Namun, mereka bersepakat bahwa melakukan semacam ini tidak <strong>membatalkan  puasa</strong> kecuali <strong>jika keluar air mani ketika bercumbu</strong>. Para ulama  tersebut berdalil dengan hadits yang sudah masyhur dalam kitab Sunan yaitu  sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘<em>Bagaimana pendapatmu  seandainya engkau berkumur-kumur?</em>‘ Makna hadits tersebut: Berkumur-kumur  adalah <em>muqodimah</em> dari minum. Kalian telah mengetahui bahwa melakukan hal tersebut tidaklah membatalkan puasa. Begitu pula dengan mencium istri adalah <em>muqodimah</em> dari jima’ (bersetubuh), juga tidak membatalkan puasa.” (<em>Syarh An  Nawawi</em>, 4/85, Asy Syamilah)</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar<br />
<a title="Boleh Ketika Puasa" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/dibolehkan-ketika-puasa-1.html"> Artikel www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/yang-dibolehkan-ketika-puasa-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217; t i k a f [Berdiam Diri]</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/i-t-i-k-a-f-berdiam-diri</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/i-t-i-k-a-f-berdiam-diri#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 04:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;TIKAF (BERDIAM DIRI) Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid [1]. Hikmahnya. Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata : &#8220;Manakala hadir dalam keadaan sehat dan istiqamah (konsisten) di atas rute perjalanan menuju Allah Ta&#8217;ala tergantung pada kumpulnya (unsur pendukung) hati tersebut kepada Allah, dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati tersebut kepada Allah Ta&#8217;ala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I&#8217;TIKAF (BERDIAM DIRI)</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>[1]. Hikmahnya.</p>
<p>Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata : &#8220;Manakala hadir dalam keadaan sehat dan istiqamah (konsisten) di atas rute perjalanan menuju Allah Ta&#8217;ala tergantung pada kumpulnya (unsur pendukung) hati tersebut kepada Allah, dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati tersebut kepada Allah Ta&#8217;ala secara menyeluruh, karena kusutnya hati tidak akan dapat sembuh kecuali dengan menghadapkan(nya) kepada Allah Ta&#8217;ala, sedangkan makan dan minum yang berlebih-lebihan dan berlebih-lebihan dalam bergaul, terlalu banyak bicara dan tidur, termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah berantakan (kusut) dan mencerai beraikan hati di setiap tempat, dan (hal-hal tersebut) akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkan, menghalangi dan menghentikannya.</p>
<p>Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang menghendaki untuk mensyariatkan bagi mereka puasa yang bisa menyebabkan hilangnya kelebihan makan dan minum pada hamba-Nya, dan akan membersihkan kecenderungan syahwat pada hati yang (mana syahwat tersebut) dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah Ta&#8217;ala, dan disyariatkannya (i&#8217;tikaf) berdasarkan maslahah (kebaikan yang akan diperoleh) hingga seorang hamba dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat. Tidak akan merusak dan memutuskannya (jalan) hamba tersebut dari (memperoleh) kebaikannya di dunia maupun di akhirat kelak.<br />
<span id="more-255"></span><br />
Dan disyariatkannya i&#8217;tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah Ta&#8217;ala dan kumpulnya hati kepada Allah, berkhalwat dengan-Nya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk, hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. Hingga jadilah mengingat-Nya, kecintaan dan penghadapan kepada-Nya sebagai ganti kesedihan (duka) hati dan betikan-betikannya, sehingga ia mampu mencurahkan kepada-Nya, dan jadilah keinginan semuanya kepadanya dan semua betikan-betikan hati dengan mengingat-Nya, bertafakur dalam mendapatkan keridhaan dan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Sehingga bermesraan ketika berkhalwat dengan Allah sebagai ganti kelembutannya terhadap makhluk, yang menyebabkan dia berbuat demikian adalah karena kelembutannya tersebut kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur manakala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya, dan (manakala) tidak ada lagi yang dapat membahagiakan (dirinya) selain daripada-Nya, maka inilah maksud dari i&#8217;tikaf yang agung itu&#8221; [Zaadul Ma'ad 2/86-87]</p>
<p>[2]. Makna I&#8217;tikaf</p>
<p>Yaitu berdiam (tinggal) di atas sesuatu, dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu&#8217;takif dan &#8216;Akif. [Al-Mishbahul Munir 3/424 oleh Al-Fayumi, dan Lisanul Arab 9/252 oleh Ibnu Mandhur]</p>
<p>[3]. Disyari&#8217;atkannya I&#8217;tikaf</p>
<p>Disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainya sepanjang tahun. Telah shahih bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beritikaf pada sepuluh (hari) terakhir bulan Syawwal[1] Dan Umar pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada zaman jahiliyah (dahulu), (yaitu) aku akan beritikaf pada malam hari di Masjidil Haram&#8217;. Beliau menjawab :Tunaikanlah nadzarmu&#8221;.</p>
<p>Maka ia (Umar Radhiyallahu &#8216;anhu) pun beritikaf pada malam harinya. [Riwayat Bukhari 4/237 dan Muslim 1656]</p>
<p>Yang paling utama (yaitu) pada bulan Ramadhan beradasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sering beritikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang dimana beliau diwafatkan padanya, beliau (pun) beritikaf selama dua puluh hari. [Riwayat Bukhari 4/245]</p>
<p>Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam seringkali beritikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau. [Riwayat Bukhari 4/266 dan Muslim 1173 dari Aisyah]</p>
<p>[4]. Syarat-Syarat I&#8217;tikaf</p>
<p>[a]    Tidak disyari&#8217;atkan kecuali di masjid, berdasarkan firman-Nya Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu[2] sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid&#8221; [Al-Baqarah : 187]</p>
<p>[b] Dan masjid-masjid disini bukanlah secara mutlak (seluruh masjid ,-pent), tapi telah dibatasi oleh hadits shahih yang mulai (yaitu) sabda beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : &#8220;Tidak ada I&#8217;tikaf kecuali pada tiga masjid (saja). [3]</p>
<p>Dan sunnahnya bagi orang-orang yang beritikaf (yaitu) hendaknya berpuasa sebagaimana dalam (riwayat) Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha yang telah disebutkan. [4]</p>
<p>[5]. Perkara-Perkara Yang Boleh Dilakukan</p>
<p>[a] Diperbolehkan keluar dari masjid jika ada hajat, boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir (rambutnya). Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha berkata.</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah memasukkan kepalanya kepadaku, padahal beliau sedang itikaf di masjid (dan aku berada di kamarku) kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat lain : aku cuci rambutnya) [dan antara aku dan beliau (ada) sebuah pintu] (dan waktu itu aku sedang haid) dan adalah Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang I&#8217;tikaf&#8221; [5]</p>
<p>[b] Orang yang sedang Itikaf dan yang yang lainnya diperbolehkan untuk berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berwudhu di dalam masjid dengan wudhu yang ringan&#8221; [Dikeluarkan oleh Ahmad 5/364 dengan sanad yang shahih]</p>
<p>[c] Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang I&#8217;tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri&#8217;tikaf, karena Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha (pernah) membuat kemah (yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang) apabila beliau beri&#8217;tikaf[6] dan hal ini atas perintah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. [Sebagaimana dalam Shahih Muslim 1173]</p>
<p>[d] Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang beritikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam jika i&#8217;tikaf dihamparkan untuk kasur atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At-Taubah.[7]</p>
<p>[6]. I&#8217;tikafnya Wanita Dan Kunjungannya Ke Masjid</p>
<p>[a] Diperbolehkan bagi seorang isteri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat i&#8217;tikaf, dan suami diperbolehkan mengantar isteri sampai ke pintu masjid. Shafiyyah Radhiyallahu &#8216;anha berkata.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dahulu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (tatkala beliau sedang) i&#8217;tikaf [pada sepuluh (hari) terkahir di bulan Ramadhan] aku datang mengunjungi pada malam hari [ketika itu di sisinya ada beberapa isteri beliau sedang bergembira ria] maka aku pun berbincang sejenak, kemudian aku bangun untuk kembali, [maka beliaupun berkata : jangan engkau tergesa-gesa sampai aku bisa mengantarmu] kemudian beliaupun berdiri besamaku untuk mengantar aku pulang, -tempat tinggal Shafiyyah yaitu rumah Usamah bin Zaid- [sesampainya di samping pintu masjid yang terletak di samping pintu Ummu Salamah] lewatlah dua orang laki-laki dari kalangan Anshar dan ketika keduanya melihat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka keduanyapun bergegas, kemudian Nabi-pun bersabda : &#8220;Tenanglah[8], ini adalah Shafiyah binti Huyaiy&#8221;, kemudian keduanya berkata : &#8216;Subhanahallah (Maha Suci Allah) ya Rasullullah&#8221;. Beliaupun bersabda : &#8220;Sesungguhnya syaitan itu menjalar (menggoda) anak Adam pada aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir akan bersarangnya kejelakan di hati kalian -atau kalian berkata sesuatu&#8221;[9]</p>
<p>[b] Seorang wanita boleh i&#8217;tikaf dengan didampingi suaminya ataupun sendirian. berdasarkan ucapan Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha : &#8220;Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam i&#8217;tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau i&#8217;tikaf setelah itu&#8221;.[Telah lewat takhrijnya]</p>
<p>Berkata Syaikh kami (yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah, -pent) :&#8221;Pada atsar tersebut ada suatu dalil yang menunjukkan atas bolehnya wanita i&#8217;tikaf dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dibatasi (dengan catatan) adanya izin dari wali-wali mereka dan aman dari fitnah, berdasarkan dalil-dalil yang banyak mengenai larangan berkhalwat dan kaidah fiqhiyah.</p>
<p>&#8220;Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat&#8221;</p>
<p>[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1]. Riwayat Bukhari 4/226 dan Muslim 1173<br />
[2]. Yakni &#8220;Janganlah kami mejimai mereka&#8221; pendapat tersebut merupakan pendapat jumhur (ulama). Lihat Zaadul Masir 1/193 oleh Ibnul Jauzi<br />
[3]. Hadits tersebut shahih, dishahihkan oleh para imam serta para ulama, dapat dilihat takhrijnya serta pembicaraan hal ini pada kitab yang berjudul Al-Inshaf fi Ahkamil I&#8217;tikaf oleh Ali Hasan Abdul Hamid<br />
[4]. Dikeluarkan oleh Abdur Razak di  dalam Al-Mushannaf 8037 dan riwayat 8033 dengan maknanya dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.<br />
[5]. Hadits Riwayat Bukhari 1/342 dan Muslim 297 dan lihat Mukhtashar Shahih Bukhari no. 167 oleh Syaikh kami Al-Albani Rahimahullah dan Jami&#8217;ul Ushul 1/3452 oleh Ibnu Asir<br />
[6]. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari 4/226<br />
[7]. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 642-zawaidnya dan Al-Baihaqi, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Bushiri dari dua jalan. Dan sanadnya Hasan<br />
[8]. Janganlah kalian terburu-buru, ini bukanlah sesuatu yang kami benci.<br />
[9]. Dikeluarkan oleh Bukhari 4/240 dan Muslim 2157 dan tambahan yang terkahir ada pada Abu Dawud 7/142-143 di dalam Aunul Ma&#8217;bud</p>
<p>sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1146/slash/0" target="_blank">Almanhaj</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/i-t-i-k-a-f-berdiam-diri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ITI&#8217;KAF DAN SYARAT-SYARATNYA</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/itikaf-dan-syarat-syaratnya</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/itikaf-dan-syarat-syaratnya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 04:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah iti&#8217;kaf pada bulan Ramadlan termasuk sunnat mu&#8217;akkad dan apa syaratnya pada selain Ramadlan .? [Athif Muh.Ali Yusuf, Riyadh] Jawaban. Iti&#8217;kaf pada bulan Ramadlan adalah sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam serta para istrinya setelah beliau tiada. Bahkan ulama sepakat bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah iti&#8217;kaf pada bulan Ramadlan termasuk sunnat mu&#8217;akkad dan apa syaratnya pada selain Ramadlan .? [Athif Muh.Ali Yusuf, Riyadh]</p>
<p>Jawaban.<span id="more-253"></span><br />
Iti&#8217;kaf pada bulan Ramadlan adalah sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam serta para istrinya setelah beliau tiada. Bahkan ulama sepakat bahwa itikaf disunnatkan. Tetapi sepatutnya itikaf dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, yakni seseorang selalu berada di masjid untuk ta&#8217;at kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan meninggalkan kegiatan duniawinya dan mengerjakan berbagai keta&#8217;atan berupa shalat, dzikir atau lainnya. Rasul Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beritikaf dalam rangka menemukan malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Yang sedang itikaf itu menjauhi segala aktivitas dunia ; tidak jual atau beli, tidak keluar masjid, tidak mengantar jenazah dan tidak menengok yang sakit.</p>
<p>Ada sebagian orang beritikaf lalu ditemui beberapa orang pada tengah malam atau di ujung hari dengan diselingi obrolan yang diharamkan, maka cara seperti ini menghilangkan maksud itikaf. Kecuali bila dikunjungi oleh salah seorang keluarganya, seperti Shafiyyah pernah mengunjungi Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika sedang beritikaf dan berbincang-bincang. Yang penting hendaknya seseorang menjadikan itikafnya sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>BOLEHKAH ITI&#8217;KAF SELAIN KETIGA MASJID</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah beritikaf pada selain ketiga masjid dan apa dasar hukumnya .?</p>
<p>Jawaban.<br />
Beritikaf pada selain ketiga masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabi dan Masjid Aqsha) adalah boleh berdasarkan makna umum firman Allah :</p>
<p>&#8220;Artinya : Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam masjid&#8221;. [Al-Baqarah : 187]</p>
<p>Ayat tersebut berlaku untuk segenap kaum muslimin. Jika kita katakan bahwa yang dimaksud masjid dalam ayat di atas hanya ketiga masjid, tentu banyak kaum muslimin yang tidak terpanggil, sebab mayoritas kaum muslimin berada di luar Mekkah, Medinah dan Qadas (Palestina).</p>
<p>Dengan demikian, kami katakan bahwa itikaf boleh pada masjid-masjid yang ada. Jika hadits mengatakan bahwa tidak ada itikaf kecuali dalam tiga masjid, maka maksudnya adalah tidak ada itikaf yang lebih sempurna dan lebih utama kecuali tiga masjid. Memang seperti itu kenyataannya. Bahkan bukan sekedar itikaf, nilai shalatnya punya kelebihan tersendiri. Yakni shalat di Masjidil Haram bernilai seratus ribu shalat. Shalat di Masjid Nabawi lebih baik dari seribu shalat kecuali di Masjidil Haram dan shalat di Masjidil Aqsha&#8217; bernilai lima ratus shalat. Inilah pahala-pahala yang dapat diraih seseorang dalam ketiga masjid tersebut, seperti melaksanakan shalat berjama&#8217;ah, shalat kusuf dan tahiyatul masjid. Sedangkan shalat sunat rawatib (sebelum atau sesudah shalat fardu) lebih baik dilaksanakan di rumah. Karena itu, kami katakan di Mekkah : &#8220;Shalat rawatibmu di rumah lebih baik dari pada di Masjidil Haram. Begitu pula yang dilaksanakan di Madinah, karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, ketika berada di Madinah bersabda :</p>
<p>&#8220;Artinya : Sebaik-baik shalat sunat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat maktubah (wajib)&#8221;.</p>
<p>Sedangkan shalat Tarawih walau sunnat tetap lebih baik dilaksanakan di masjid karena diperintahkan agar dilaksanakan secara berjama&#8217;ah.</p>
<p>BOLEHKAH YANG BERITI&#8217;KAF MENGAJAR SESEORANG</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sahkah orang yang sedang beri&#8217;tikaf mengajarkan ilmu kepada seseorang .?</p>
<p>Jawaban.<br />
Sebaiknya orang yang beritikaf mengkhususkan dirinya untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu seperti dzikir, shalat, membaca Al-Qur&#8217;an atau hal lainnya. Namun jika dibutuhkan, tak ada halangan baginya mengajari seseorang, sebab inipun termasuk ke dalam makna dzikir kepada Allah.</p>
<p>BERKOMUNIKASI DENGAN YANG BERI&#8217;TKAF MELALUI TELEPON</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah yang sedang beri&#8217;tikaf berkomunikasi melalui telpon untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin ..?</p>
<p>Jawab :<br />
Memang dibolehkan bagi yang sedang beri&#8217;tikaf mengadakan komunikasi melalui telpon dalam memenuhi kebutuhan sebagian kaum muslimin, bila telpon itu berada di dalam masjid tempat i&#8217;tikafnya, sebab ia tidak keluar masjid. Kecuali jika telpon itu berada di luar masjid, maka ia tak boleh pergi meninggalkan i&#8217;tikafnya. Seseorang tidak boleh beri&#8217;tikaf bila sedang mengurus kepentingan kaum muslimin, sebab mengurus kepentingan umum itu lebih penting dari pada i&#8217;tikaf, kecuali jika kepentingan umum itu sedikit manfaatnya.</p>
<p>[Disalin dari buku 257 Tanya Jawab Fatwa-Fatwa Al-Utsaimin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal.230-235, terbitan Gema Risalah Press, alih bahasa Prof.Drs.KH.Masdar Helmy]</p>
<p>sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1153/slash/0" target="_blank">Almanhaj</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/itikaf-dan-syarat-syaratnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/panduan-puasa-ramadhan</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/panduan-puasa-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 08:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Hukumnya Alloh Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqoroh: 183) Umat Islam telah bersepakat tentang wajibnya puasa Romadhon dan merupakan salah satu rukun Islam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hukumnya</strong></p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”</em> (QS. Al Baqoroh: 183)</p>
<p>Umat Islam telah bersepakat tentang wajibnya puasa Romadhon dan merupakan salah satu rukun Islam yang dapat diketahui dengan pasti merupakan bagian dari agama. Barang siapa yang mengingkari kewajiban puasa Romadhon maka dia kafir, keluar dari Islam.</p>
<p><strong>Keutamaannya</strong></p>
<p><em>“Orang yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman dalam hadits Qudsi, <em>“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p><em>“Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Alloh pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Alloh mereka bergembira karena puasanya.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p><em>“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak masuk melalui pintu tersebut seorang pun kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak masuk melalui pintu tersebut seorang pun kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p><strong>Kewajiban Berpuasa Romadhon Dengan Melihat Hilal</strong><span id="more-245"></span></p>
<p>Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berpuasalah karena melihat hilal Romadhon, berhari raya-lah karena melihat hilal Syawwal. Jika hilal tertutupi mendung maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”</em> (Muttafaqun ‘alaih. Lafazh Muslim)</p>
<p><strong>Dengan Apa Bulan Romadhon Ditetapkan ?</strong></p>
<p>Bulan Romadhon ditetapkan dengan melihat hilal meskipun dari satu orang yang sholih atau dengan menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Ibnu Umar <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Banyak orang berusaha melihat hilal. Kemudian aku mengabarkan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwa aku sungguh-sungguh melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.”</em> (Shohih. <em>Al Irwa’</em>)</p>
<p>Jika hilal tidak dapat dilihat karena mendung atau sejenisnya maka bulan Romadhon ditetapkan dengan menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Untuk awal bulan Syawwal tidak boleh ditetapkan kecuali dengan persaksian dua orang. Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jika ada 2 orang muslim bersaksi, maka berpuasalah dan berhari raya-lah kalian.”</em> (Shohih. <em>Shahih Ibnu Majah</em>)</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Barang siapa yang melihat hilal seorang diri maka tidak boleh berpuasa sampai masyarakat berpuasa, dan tidak boleh berhari raya sampai masyarakat berhari raya. Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Puasa adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Berhari raya adalah hari di mana kalian semua berhari raya. Dan berkurban adalah hari di mana kalian semua berkurban.”</em> (Shohih. <em>Shahih Al-Jami’ Ash-Shoghir</em>. At Tirmidzi berkata, <em>“Sebagian ahlul ‘ilmi menafsirkan hadits ini dengan mengatakan, ‘Maknanya bahwa puasa dan hari raya adalah bersama jama’ah [pemerintah kaum muslimin, pent] dan mayoritas manusia [masyarakat, pent].’”</em>)</p>
<p><strong>Siapa yang Diwajibkan Berpuasa ?</strong></p>
<p>Ulama bersepakat bahwa puasa diwajibkan atas orang Islam, berakal, sudah baligh, sehat dan tidak sedang bepergian. Bagi wanita harus tidak dalam keadaan haid dan nifas. (<em>Fiqh Sunnah</em>). Jika ada orang sakit dan musafir tetap berpuasa, maka puasanya sah. Karena bolehnya berbuka bagi keduanya adalah keringanan/<em>rukhshoh</em>, maka jika keduanya tidak mengambil <em>rukhsokh</em>-nya maka itu juga hal yang baik.</p>
<p><strong>Mana yang Lebih Utama, Berbuka atau Berpuasa ?</strong></p>
<p>Jika orang sakit dan musafir tidak menemukan kesulitan untuk berpuasa, maka berpuasa lebih utama. Namun jika keduanya menemukan kesulitan untuk berpuasa, maka berbuka lebih utama.</p>
<p>Abu Sa’id Al-Khudzri <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Kami dulu berperang bersama Rosululloh </em><em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> di bulan Romadhon. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Orang yang berpuasa tidak memarahi orang yang tidak berpuasa begitu pula sebaliknya. Kami berpendapat bahwa barang siapa yang merasa mampu kemudian berpuasa maka hal itu baik. Dan kami juga berpendapat bahwa barang siapa yang merasa lemah kemudian tidak berpuasa maka hal itu juga baik.” (Shohih. <em>Shohih Tirmidzi</em>)</p>
<p>Adapun tentang tidak wajibnya berpuasa bagi wanita yang sedang haid dan nifas adalah karena Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukankah jika wanita sedang haid tidak boleh sholat dan berpuasa? Maka itulah kekurangan agamanya.”</em> (HR. Bukhori)</p>
<p>Jika wanita yang sedang haid dan nifas berpuasa, maka puasanya tidak sah. Karena suci dari haid dan nifas termasuk salah satu syarat puasa sehingga wajib bagi keduanya untuk meng-<em>qodho’</em> puasanya. ‘Aisyah <em>rodhiallohu ‘anha</em> berkata, <em>“Dulu kami mengalami haid di masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Maka kami diperintahkan untuk meng-qodho’ puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qodho’ sholat.”</em> (Shohih. Shohih Tirmidzi)</p>
<p><strong>Kewajiban Bagi Laki-Laki dan Wanita yang Sudah Tua Serta Orang Sakit yang Tidak Dapat Diharapkan Lagi Kesembuhannya</strong></p>
<p>Bagi yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua atau sejenisnya maka boleh untuk berbuka dengan memberi makan bagi orang miskin setiap hari yang dia tidak berpuasa karena firman Alloh Ta’ala,</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p><em>“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.”</em> (QS. Al Baqoroh: 184)</p>
<p><strong>Wanita Hamil dan Menyusui</strong></p>
<p>Jika wanita hamil dan menyusui tidak mampu berpuasa atau khawatir terhadap anaknya jika berpuasa, maka boleh bagi keduanya untuk berbuka. Dan wajib bagi keduanya untuk membayar <em>fidyah</em> namun tidak ada kewajiban <em>qodho’</em> bagi keduanya.</p>
<p><strong>Ukuran Makanan yang Wajib Diberikan</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>rodhiallohu ‘anhu</em>, <em>“Sesungguhnya dia tidak mampu untuk berpuasa Ramadhan pada suatu tahun. Kemudian dia membuat roti dalam satu piring besar dan memanggil 30 orang miskin dan membuat mereka semua kenyang.”</em> (Sanadnya Shohih. <em>Al Irwa’</em>)</p>
<p><strong>Rukun-Rukun Puasa</strong></p>
<p>Pertama, <ins>Niat</ins>. Karena sabda Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Niat harus dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar karena Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak niat berpuasa sebelum fajar terbit maka puasanya tidak sah’.”</em> (Shohih, <em>Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir</em>)</p>
<p>Kedua, <ins>menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari</ins>.</p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman,</p>
<p>فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</p>
<p><em>“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Alloh untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”</em> (QS. Al Baqoroh: 187)</p>
<p><strong>Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Ada Enam Perkara</strong></p>
<p>Pertama dan Kedua, <ins>makan</ins> dan minum dengan sengaja. Jika seseorang makan atau minum dalam keadaan lupa maka tidak ada <em>qodho’</em> baginya dan juga tidak membayar <em>kaffaroh</em>/denda.</p>
<p>Ketiga, <ins>muntah dengan sengaja</ins>. Jika muntah dengan tidak sengaja maka tidak ada kewajiban qodho’ dan tidak perlu membayar kafaroh.</p>
<p>Keempat dan Kelima, <ins>haid dan nifas</ins> meskipun menjelang berbuka puasa mengingat adanya kesepakatan ulama tentang hal tersebut.</p>
<p>Keenam, <ins>hubungan suami istri</ins>. Orang yang melakukannya wajib untuk membayar <em>kaffaroh</em>: Memerdekakan budak jika punya, jika tidak maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin. (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p><strong>Adab-Adab Puasa</strong></p>
<p>Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk memperhatikan adab-adab berikut ini:</p>
<p>Pertama, <ins>makan sahur</ins>. Dianjurkan pula untuk mengakhirkan makan sahur.</p>
<p>Dari Anas <em>rodhiallohu ‘anhu</em> dari Zaid bin Tsabit <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Kami makan sahur bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kemudian melaksanakan sholat.”</em> Aku (Anas) berkata, <em>“Berapa lama antara iqomah dan makan sahur?”</em> Zaid bin Tsabit <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Jangka waktu untuk membaca Al Quran 50 ayat.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Jika azan terdengar sedangkan makanan dan minuman masih berada di tangan, maka boleh untuk meneruskan makan dan minum.</p>
<p>Kedua, <ins>menahan diri dari kata-kata sia-sia dan kotor/menjijikkan dan sejenisnya</ins> yang bertentangan dengan puasa.</p>
<p>Ketiga, <ins>dermawan dan mempelajari Al Quran</ins>.</p>
<p>Keempat, <ins>menyegerakan berbuka puasa</ins>.</p>
<p>Kelima, <ins>berbuka puasa secara sederhana dengan hal-hal yang disebutkan dalam hadits berikut</ins>.</p>
<p><em>“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma basah sebelum sholat. Jika tidak ada kurma basah maka beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada kurma kering maka beliau minum beberapa teguk air.”</em> (Hasan Shohih. HR. Abu Daud, Tirmidzi)</p>
<p>Keenam, <ins>berdoa pada saat berbuka sesuai dengan hadits berikut</ins>.</p>
<p><em>“Apabila Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berbuka beliau berdoa yang artinya, ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, pahala telah ditetapkan, Insyaa Alloh.’”</em> (Hasan. Shohih Sunan Abu Daud)</p>
<p><strong>Hal-Hal yang Diperbolehkan Ketika Berpuasa</strong></p>
<p>Pertama, <ins>mandi untuk menyegarkan badan</ins>.</p>
<p>Kedua, <ins>berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung namun tidak berlebihan</ins>.</p>
<p>Ketiga, <ins>berbekam</ins>. Hukumnya berubah menjadi makruh jika khawatir dirinya menjadi lemah. Yang dihukumi sama dengan bekam adalah donor darah. Jika orang yang ingin mendonorkan darahnya merasa khawatir menjadi lemas maka tidak boleh mendonorkan darah ketika siang hari kecuali sangat dibutuhkan.</p>
<p>Keempat, <ins>mencium dan bercumbu dengan istri <strong>bagi yang mampu menahan dirinya</strong></ins>.</p>
<p>Kelima, <ins>dalam keadaan junub ketika sudah terbit fajar</ins>.</p>
<p>Keenam, <ins>menyatukan sahur dan berbuka</ins>.</p>
<p>Ketujuh, <ins>menggosok gigi, memakai minyak wangi, minyak rambut, celak mata, obat tetes mata dan suntik</ins>.</p>
<p>Dasar dibolehkannya perkara-perkara tersebut adalah kaidah <em>baroo’ah ashliyyah</em> (seseorang terbebas dari suatu hukum sampai ada dalil, pent) Seandainya perkara-perkara itu termasuk perkara yang diharamkan ketika berpuasa niscaya Alloh dan Rosul-Nya akan menjelaskannya.</p>
<p>Alloh berfirman,</p>
<p>وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّاً</p>
<p><em>“Dan tidaklah Robb kalian itu lupa.”</em> (QS. Maryam: 64)</p>
<p><strong>I’tikaf</strong></p>
<p>I’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk mencari kebaikan dan mencari malam Lailatul Qodar.</p>
<p>‘Aisyah berkata, <em>“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan Romadhon. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Carilah malam Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon.’” (HR. Bukhori). ‘Aisyah juga berkata, “Carilah malam Lailatul Qodar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon.”</em> (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> juga mendorong dan memotivasi umatnya untuk mencarinya. Abu Huroiroh <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barang siapa yang melaksanakan sholat pada malam Qodar karena keimanan dan mengharap pahala dari Alloh, maka dosanya yang telah lalu pasti diampuni.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>I’tikaf tidak boleh dilakukan kecuali di dalam masjid karena firman Alloh Ta’ala,</p>
<p>وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, pada saat kamu ber-i’tikaf di dalam masjid.”</em> (QS. Al Baqoroh: 187)</p>
<p>Dan juga karena masjid adalah tempat Nabi bert-i’tikaf.</p>
<p>Dianjurkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya dengan amal ketaatan kepada Alloh seperti sholat; membaca Al Quran; berzikir, sholawat kepada Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>; dan sebagainya.</p>
<p>Dimakruhkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya dengan perkataan atau perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Sebagaimana dimakruhkan pula menahan diri dari berbicara karena menyangka bahwa hal tersebut mendekatkan diri kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. (<em>Fiqh Sunnah</em>).</p>
<p>Dan diperbolehkan untuk keluar dari tempat beri’tikaf karena ada kebutuhan yang harus dilaksanakan. Sebagaimana diperbolehkan juga untuk menyisir rambut, mencukur rambut kepala, memotong kuku dan membersihkan badan. I’tikaf batal apabila seseorang keluar tanpa ada keperluan atau berhubungan suami istri. <em>Alhamdulillaahilladzii bi ni’matihi tatimmush shoolihaat.</em></p>
<p><em>(Diringkas dari kitab Al Wajiiz fii Fiqhi Sunnati wal Kitaabil ‘Aziiz Kitab Shiyaam, karya Syaikh Abdul ‘Azhim Badawi Al Kholafi hafizhohullohu)</em></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Ibrahim Muhammad Saifuddin Hakim (Alumni Ma’had Ilmi)<br />
Murojaah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar<br />
<a title="Panduan puasa ramadhan" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-puasa-ramadhan.html">Artikel www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/panduan-puasa-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan Ramadhan Kesempatan yang Baik untuk Meninggalkan Rokok</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/bulan-ramadhan-kesempatan-yang-baik-untuk-meninggalkan-rokok</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/bulan-ramadhan-kesempatan-yang-baik-untuk-meninggalkan-rokok#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 05:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah ta’ala pernah ditanyakan: Sebagian orang yang berpuasa yang gemar merokok meyakini bahwa mengisap rokok di bulan Ramadhan bukanlah pembatal puasa karena rokok bukan termasuk makan dan minum. Bagaimana pendapat Syaikh yang mulia tentang masalah ini? Beliau rahimahullah menjawab: Menurutku, ini adalah pernyataan yang tidak ada usulnya sama sekali. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Muhammad bin  Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah ta’ala</em> pernah ditanyakan:</p>
<p>Sebagian orang yang berpuasa yang gemar merokok meyakini bahwa mengisap rokok di bulan Ramadhan bukanlah pembatal puasa karena rokok bukan termasuk makan dan minum. Bagaimana pendapat Syaikh yang mulia tentang masalah ini?</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah </em>menjawab:</p>
<p>Menurutku, ini adalah pernyataan yang tidak ada usulnya sama sekali. Bahkan  sebenarnya rokok termasuk minum (<em>syariba</em>). (Dalam bahasa Arab) mengisap  rokok disebut <em>syariba ad dukhon</em>. Jadi mengisap rokok disebut dengan  minum (<em>syariba</em>).</p>
<p>Kemudian juga, asap rokok -tanpa diragukan lagi- masuk hingga dalam perut atau dalam tubuh. Dan segala sesuatu yang masuk dalam perut dan dalam tubuh termasuk pembatal puasa, baik yang masuk adalah sesuatu yang bermanfaat atau yang mendatangkan bahaya. Misalnya seseorang menelan manik-manik, besi atau selainnya (dengan sengaja), maka puasanya batal. Oleh karena itu, tidak disyaratkan sebagai pembatal puasa adalah memakan atau meminum sesuatu yang bermanfaat. Segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai makanan dan minuman.</p>
<p>Mereka meyakini bahkan mengenal bahwa mengisap rokok itu disebut (dalam  bahasa Arab) <em>syariba</em> (yang artinya = minum), namun mereka tidak menyatakan bahwa rokok adalah pembatal puasa. Sama saja kita katakan bahwa ini jumlahnya satu, namun dia menganggap mustahil ini jumlahnya satu. Jadi, orang ini ada kesombongan dalam dirinya.<span id="more-243"></span></p>
<p>Kemudian berkaitan dengan bulan Ramadhan, ini adalah waktu yang tepat bagi orang yang memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan rokok yang jelek dan bisa mendatangkan bahaya. Waktu ini adalah kesempatan yang baik untuk meninggalkan rokok karena sepanjang siang seseorang harus menahan diri dari hal tersebut. Sedangkan di malam hari, dia bisa menghibur diri dengan hal-hal yang mubah seperti makan, minum, jalan-jalan ke masjid atau berkunjung ke majelis orang sholih. Untuk meninggalkan kebiasaan merokok, seseorang juga hendaknya menjauhkan diri dari para pencandu rokok yang bisa mempengaruhi dia untuk merokok lagi.</p>
<p>Apabila seorang pencandu rokok setelah sebulan penuh meninggalkan rokoknya (karena moment puasa yang dia lalui), ini bisa menjadi penolong terbesar baginya untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya, dia bisa meninggalkan rokok tersebut di sisa umurnya. Bulan Ramadhan inilah kesempatan yang baik. Waktu ini janganlah sampai dilewatkan oleh pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokoknya selamanya.</p>
<p>Dikutip dari <em>Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin</em>, Bab <em>Ash  Shiyam</em>, 17/148 (Asy Syamilah)</p>
<p>-Semoga Allah memberikan taufik kepada pencandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya setelah dia berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, <em>Amin Ya Mujibas Sa’ilin</em>-</p>
<p class="arab" style="text-align:left;">Diselesaikan menjelang Maghrib di salah satu rumah Allah,<br />
Masjid Siswa Graha, 23 Sya’ban 1429 H<br />
[bertepatan dengan 25 Agustus 2008]</p>
<p>Semoga Allah membalas amalan ini</p>
<p class="arab" style="text-align:left;">***</p>
<p class="arab" style="text-align:left;">Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.<br />
<a title="Ramadhan kesempatan meninggalkan rokok" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ramadhan-kesempatan-baik-meninggalkan-rokok.html">Artikel www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/bulan-ramadhan-kesempatan-yang-baik-untuk-meninggalkan-rokok/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Mengamalkan Sunnah Puasa</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/mari-mengamalkan-sunnah-puasa</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/mari-mengamalkan-sunnah-puasa#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 02:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[1. Mengakhirkan Sahur Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan dan menganjurkan kepada orang yang hendak berpuasa agar makan sahur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ “Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.” (HR. Ahmad. Dikatakanshohih oleh Syaikh Al Albani karena memiliki banyak syawahid. Lihat Shohihul Jami’) Nabi kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse:separate;color:#1e1e1e;font-family:Verdana;font-size:13px;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;letter-spacing:normal;line-height:18px;orphans:2;text-indent:0;text-transform:none;white-space:normal;widows:2;word-spacing:0;"></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;"><strong>1. Mengakhirkan Sahur</strong></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Nabi kita<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>telah memerintahkan dan menganjurkan kepada orang yang hendak berpuasa agar makan sahur. Beliau<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur</em>.” (HR. Ahmad. Dikatakan<em>shohih</em><span class="Apple-converted-space"> </span>oleh Syaikh Al Albani karena memiliki banyak<span class="Apple-converted-space"> </span><em>syawahid</em>. Lihat<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shohihul Jami’</em>)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Nabi kita<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>memerintahkan demikian karena di dalamnya terdapat keberkahan. Dari pembantu Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>-Anas bin Malik<span class="Apple-converted-space"> </span><em>radhiyallahu ‘anhu</em>- berkata bahwa Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Sahur inilah pembeda antara puasa Yahudi, Nasrani (Ahlul Kitab) dengan umat ini. Dari Amr bin ‘Ash<span class="Apple-converted-space"> </span><em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam<span class="Apple-converted-space"> </span></em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ<span id="more-241"></span></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>melarang untuk meninggalkan sahur, di mana beliau<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.”</em><span class="Apple-converted-space"> </span>(HR. Ahmad. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shohihul Jami’</em>)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Dan sangat dianjurkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kemudian beliau<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata,”<em>Berapa lama jarak antara adzan dan sahur</em><span class="Apple-converted-space"> </span><em>kalian?”</em><span class="Apple-converted-space"> </span>Kemudian Zaid berkata,”<em>Sekitar 50 ayat</em>“. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;"><strong>2. Menyegerakan Berbuka</strong></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Menyegerakan berbuka akan mendatangkan kebaikan. Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Menyegerakan berbuka juga berarti seseorang konsisten dalam menjalankan sunnah Nabinya<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa</em>.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Dikatakan<em>shohih</em><span class="Apple-converted-space"> </span>oleh Syaikh Al Albani dalam<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shohih Targib wa Tarhib</em>). Dan inilah yang ditiru oleh<em>Syi’ah Rafidhah</em>, mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa yaitu baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shifat Shoum Nabi</em>, hal. 63)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Nabi kita<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam<span class="Apple-converted-space"> </span></em>biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat magrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlak dari suri tauladan kita<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sebagaimana Anas bin Malik<span class="Apple-converted-space"> </span><em>radhiyallahu ‘anhu</em><span class="Apple-converted-space"> </span>berkata,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan meminum air putih.</em>” (HR. Abu Daud, dikatakan hasan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud</em>). Hadits ini menunjukkan bahwa ketika berbuka dianjurkan berbuka dengan kurma (<em>rothb</em><span class="Apple-converted-space"> </span>atau<span class="Apple-converted-space"> </span><em>tamr</em>) sebagaimana yang beliau<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>lakukan.</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;"><strong>3. Berdoa Ketika Berbuka</strong></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Perlu diketahui bersama bahwa doa ketika berbuka adalah salah satu doa yang<em>mustajab</em><span class="Apple-converted-space"> </span>dan tidak akan ditolak. Maka berdoalah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan dikabulkan. Nabi<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: 1. Pemimpin yang adil, 2. Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, 3. Doa orang yang terdzolimi.</em>” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah. Dikatakan<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shohih</em><span class="Apple-converted-space"> </span>oleh Syaikh Al Albani dalam<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi</em>)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Doa ketika berbuka adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar<em>radhiyallahu ‘anhuma</em><span class="Apple-converted-space"> </span>bahwa dulu Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam<span class="Apple-converted-space"> </span></em>ketika berbuka beliau membaca :</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">“<em>Dzahabadh dhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”</em><span class="Apple-converted-space"> </span>(artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud. Dikatakan<span class="Apple-converted-space"> </span><em>hasan</em><span class="Apple-converted-space"> </span>oleh Syaikh Al Albani dalam<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud</em>)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;"><strong>4. Memberi Makan Orang Berbuka</strong></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Para pembaca sekalian, beri makanlah kepada orang yang berpuasa karena ini akan mendatangkan pahala dan kebaikan yang melimpah ruah. Lihatlah apa yang Rasulullah<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam<span class="Apple-converted-space"> </span></em>sabdakan,</p>
<p class="arab" style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;" align="right">مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;"><em>“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga</em>.” (HR. Tirmidzi dan dikatakan<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shohih</em><span class="Apple-converted-space"> </span>oleh Syaikh Al Albani dalam<span class="Apple-converted-space"> </span><em>Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi</em>)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;"><strong>5. Memperbanyak Ibadah Di Bulan Ramadhan</strong></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Di antara petunjuk Nabi<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>adalah memperbanyak berbagai macam ibadah di bulan Ramadhan. Jibril ‘<em>alaihis salam<span class="Apple-converted-space"> </span></em>biasa membacakan Al Qur’an kepada beliau<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>di bulan Ramadhan. Dan apabila Jibril menemui Nabi<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, terlihat bahwa beliau<span class="Apple-converted-space"> </span><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>adalah orang yang paling suka memberi bagaikan hembusan angin. Beliau<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span class="Apple-converted-space"> </span>adalah sebaik-baik manusia yang paling banyak bersedekah, berbuat ihsan (kebaikan), membaca Al-Qur’an, shalat, zikir dan i’tikaf. (<em>Zadul Ma’ad</em>, II/29, Ibnul Qayyim, Mawqi’ul Islam -Maktabah Syamilah)</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">***</p>
<p style="font-family:Verdana,Arial,Calibri,sans-serif;font-size:12px;line-height:1.6em;color:#1e1e1e;">Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.<br />
Muroja’ah: Ustadz Abu Sa’ad, M.A.</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/mari-mengamalkan-sunnah-puasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macam-Macam Bid’ah di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/macam-macam-bid%e2%80%99ah-di-bulan-ramadhan</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/macam-macam-bid%e2%80%99ah-di-bulan-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 01:19:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa-Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan barakah dan penuh dengan keutamaan. Allah subhanahu wa ta’ala telah mensyariatkan dalam bulan tersebut berbagai macam amalan ibadah yang banyak agar manusia semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Akan tetapi sebagian dari kaum muslimin berpaling dari keutamaan ini dan membuat cara-cara baru dalam beribadah. Mereka lupa firman Allah ta’ala, “Pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Ramadhan adalah  bulan yang penuh dengan barakah dan penuh dengan keutamaan. Allah <em>subhanahu  wa ta’ala</em> telah mensyariatkan dalam bulan tersebut berbagai macam amalan ibadah yang banyak agar manusia semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Akan tetapi sebagian dari kaum muslimin berpaling dari keutamaan ini dan membuat cara-cara baru dalam beribadah. Mereka lupa firman Allah <em>ta’ala</em>, <em>“Pada  hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian.”</em> (QS. Al-Maidah: 3). Mereka ingin melalaikan manusia dari ibadah yang disyariatkan. Mereka tidak merasa cukup dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> dan para sahabat beliau <em>ridhwanullahi ‘alaihim ajma’iin</em>.</p>
<p>Oleh sebab itu pada tulisan ini kami mencoba mengangkat beberapa amalan bid’ah yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin, yaitu amalan-amalan yang dilakukan akan tetapi tidak diajarkan oleh Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maupun para  sahabat beliau, semoga dengan mengetahuinya kaum muslimin bisa meninggalkan  perbuatan tersebut.</p>
<p><strong>Bid’ah Berzikir Dengan Keras Setelah Salam Shalat  Tarawih</strong></p>
<p>Berzikir dengan suara keras setelah melakukan salam pada shalat tarawih dengan dikomandani oleh satu suara adalah perbuatan yang tidak disyariatkan. Begitu pula perkataan muazin, <em>“assholaatu  yarhakumullah”</em> dan yang semisal dengan perkataan tersebut ketika hendak melaksanakan shalat tarawih, perbuatan ini juga tidak disyariatkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tidak pula oleh para sahabat maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Oleh karena itu hendaklah kita merasa cukup dengan sesuatu yang telah mereka contohkan. Seluruh kebaikan adalah dengan mengikuti jejak mereka dan segala keburukan adalah dengan membuat-buat perkara baru yang tidak ada tuntunannya dari mereka.<span id="more-239"></span></p>
<p><strong>Membangunkan Orang-Orang untuk Sahur</strong></p>
<p>Perbuatan ini merupakan  salah satu bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, beliau tidak pernah memerintahkan hal ini. Perbedaan tata-cara membangunkan sahur dari tiap-tiap daerah juga menunjukkan tidak disyariatkannya hal ini, padahal jika seandainya perkara ini disyariatkan maka tentunya mereka tidak akan berselisih.</p>
<p><strong>Melafazkan Niat</strong></p>
<p>Melafazkan niat ketika hendak melaksanakan puasa Ramadhan adalah tradisi yang dilakukan oleh banyak kaum muslimin, tidak terkecuali di negeri kita. Di antara yang kita jumpai adalah imam masjid shalat tarawih ketika selesai melaksanakan shalat witir mereka mengomandoi untuk bersama-sama membaca niat untuk melakukan puasa besok harinya.</p>
<p>Perbuatan ini adalah  perbuatan yang tidak di contohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> juga orang-orang saleh setelah beliau. Yang sesuai tuntunan adalah berniat untuk melaksanakan puasa pada malam hari sebelumnya cukup dengan meniatkan dalam hati saja, tanpa dilafazkan.</p>
<p><strong>Imsak</strong></p>
<p>Tradisi imsak, sudah menjadi tren yang dilakukan kaum muslimin ketika ramadhan. Ketika waktu sudah hampir fajar, maka sebagian orang meneriakkan “imsak, imsak…” supaya orang-orang tidak lagi makan dan minum padahal saat itu adalah waktu yang bahkan Rasulullah menganjurkan kita untuk makan dan minum. Sahabat Anas meriwayatkan dari Zaid bin Sabit <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, “Kami makan  sahur bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kemudian beliau shalat. Maka kata Anas, “Berapa lama jarak antara azan dan sahur?”, Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca ayat al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Menunda Azan Magrib Dengan Alasan Kehati-Hatian</strong></p>
<p>Hal ini bertentangan  dengan perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menganjurkan  kita untuk menyegerakan berbuka. Rasulullah bersabda,</p>
<p class="arab" align="right">لاَ يَزَالُ  النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ</p>
<p><em>“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama  mereka menyegerakan berbuka.”</em> (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p><strong>Takbiran</strong></p>
<p>Yaitu menyambut datangnya ied dengan mengeraskan membaca takbir dan memukul bedug pada malam ied. Perbuatan ini tidak disyariatkan, yang sesuai dengan sunah adalah melakukan takbir ketika keluar rumah hendak melaksanakan shalat ied sampai tiba di lapangan tempat melaksanakan shalat ied.</p>
<p><strong>Padusan</strong></p>
<p>Yaitu Mandi besar pada satu hari menjelang satu ramadhan dimulai. Perbuatan ini tidak disyariatkan dalam agama ini, yang menjadi syarat untuk melakukan puasa ramadhan adalah niat untuk berpuasa esok pada malam sebelum puasa, adapun mandi junub untuk puasa Ramadhan tidak ada tuntunannya dari Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Mendahului Puasa Satu Hari Atau Dua Hari Sebelumnya</strong></p>
<p>Rasulullah telah melarang mendahului puasa ramadhan dengan melakukan puasa pada dua hari terakhir di bulan sya’ban, kecuali bagi yang memang sudah terbiasa puasa pada jadwal tersebut, misalnya puasa senin kamis atau puasa dawud. Rasulullah bersabda, <em>“Janganlah kalian mendahului puasa ramadhan dengan melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi yang terbiasa melakukan puasa pada hari tersebut maka tidak apa-apa baginya untuk berpuasa.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Perayaan Nuzulul Qur’an</strong></p>
<p>Yaitu melaksanakan perayaan pada tanggal 17 Ramadhan, untuk mengenang saat-saat diturunkannya al-Qur’an. Perbuatan ini tidak ada tuntunannya dari praktek Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, begitu pula para sahabat sepeninggal beliau.</p>
<p><strong>Berziarah Kubur Karena Ramadhan</strong></p>
<p>Tradisi ziarah kubur menjelang atau sesudah ramadhan banyak dilakukan oleh kaum muslimin, bahkan di antara mereka ada yang sampai berlebihan dengan melakukan perbuatan-perbuatan syirik di sana. Perbuatan ini tidak disyariatkan. Ziarah kubur dianjurkan agar kita teringat dengan kematian dan akhirat, akan tetapi mengkhususkannya karena even tertentu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah maupun para sahabat <em>ridhwanullahi  ‘alaihim ajma’iin</em>.</p>
<p>Inilah beberapa bid’ah  yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, khususnya di negeri kita, semoga  Allah <em>ta’ala</em> memberikan kita ilmu yang bermanfaat, sehingga kita bisa meninggalkan perkara-perkara tersebut dan melakukan perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Sa’id  Satria Buana<br />
<a title="Bid'ah Bulan Ramadhan" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bidah-bulan-ramadhan.html">Artikel www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/puasa-ramadhan/macam-macam-bid%e2%80%99ah-di-bulan-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

