<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Tokoislam.info &#187; Ilmu Hadits</title>
	<atom:link href="http://blog.tokoislam.info/category/ilmu-hadits/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tokoislam.info</link>
	<description>kumpulan artikel bermanfaat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 03:17:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADIST-HADIST DHA&#8217;IF UNTUK FADHAA-ILUL A&#8217;MAL (KEUTAMAAN AMAL) TARGHIB DAN TARHIB DAN LAIN-LAIN</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/ilmu-hadits/hukum-meriwayatkan-dan-mengamalkan-hadist-hadist-dhaif-untuk-fadhaa-ilul-amal-keutamaan-amal-targhib-dan-tarhib-dan-lain-lain</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/ilmu-hadits/hukum-meriwayatkan-dan-mengamalkan-hadist-hadist-dhaif-untuk-fadhaa-ilul-amal-keutamaan-amal-targhib-dan-tarhib-dan-lain-lain#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Dalam membahas masalah ini saya bagi menjadi dua bagian :
PERTAMA
Menjelaskan beberapa kesalahan dan kejahilan dalam memehami perkataan
sebagian ulama tentang mengamalkan hadist dhaif untuk fadhaa-ilul
a&#8217;mal :
1.	Kebanyakan dari mereka menyangka bahwa masalah mengamalkan
hadist-hadist dhaif untuk fadhaa-ilul a&#8217;mal atau targhib dan tarhib
tidak ada khilaf lagi &#8211; tentang bolehnya- diantara para ulama. Inilah
persangkaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat</p>
<p>Dalam membahas masalah ini saya bagi menjadi dua bagian :</p>
<p>PERTAMA</p>
<p>Menjelaskan beberapa kesalahan dan kejahilan dalam memehami perkataan<br />
sebagian ulama tentang mengamalkan hadist dhaif untuk fadhaa-ilul<br />
a&#8217;mal :</p>
<p>1.	Kebanyakan dari mereka menyangka bahwa masalah mengamalkan<br />
hadist-hadist dhaif untuk fadhaa-ilul a&#8217;mal atau targhib dan tarhib<br />
tidak ada khilaf lagi &#8211; tentang bolehnya- diantara para ulama. Inilah<br />
persangkaan yang jahil. Padahal , kenyataannya justru sebaliknya.</p>
<p>Yakni telah terjadi khilaf diantara mereka para ulama sebagaimana<br />
diterangkan secara luas di dalam kitab-kitab musthalah . dan menurut<br />
mazhab Imam Malik , Syafi&#8217;I , Ahmad bin Hambal , Yahya bin Ma&#8217;in,<br />
Abdurahman bin Mahdi , Bukhari , Muslim , Ibnu Abdil Baar , Ibnu Hazm<br />
dan para imam ahli hadist lainnya , mereka semua TIDAK MEMBOLEHKAN<br />
beramal dengan hadist dhaif SECARA MUTLAK meskipun untuk fadhailul<br />
a&#8217;mal dan lain-lain. Tidak syak lagi inilah mazhab yang haq. Karena<br />
tidak ada hujjah kecuali hadist-hadist yang telah tsabit dari<br />
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam . Cukuplah saya turunkan<br />
perkataan Imam Syafi&#8217;I :&#8221; idza shohhal hadistu fahuwa mazhabiy&#8221;<br />
apabila telah sah suatu hadist . maka itulah mazhabku.</p>
<p>2.	Mereka memahami bahwa mengamalkan hadist dha&#8217;if itu untuk<br />
menetapkan (itsbat) tentang suatu amal. Baik mewajibkan , menyunatkan<br />
(mustahab) , mengharamkan atau memakruhkannya meskipun tidak datang<br />
nash dari Al kitab dan As Sunnah .</p>
<p>Seperti mereka telah menetapkan dengan hadist-hadist dha&#8217;if beberapa<br />
macam shalat sunat dan ibadah lainnya yang sama sekali tidak ada dalil<br />
shahih dari As Sunnah secara tafsil (terperinci) yang menerangkan<br />
tentang sunatnya. Kalaupun demikian pemahaman mereka dalam mengamalkan<br />
hadist-hadist dha&#8217;if untuk fadhaailul a&#8217;mal.<span id="more-201"></span></p>
<p>Allahumma ! Memang demikianlah yng selama ini mereka amalkan. Maka,<br />
jelaslah bahwa mereka telah menyalahi ijma ulama sebagaimana<br />
diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Karena barang siapa<br />
yang menetapkan (istbat) tentang sesuatu amal yang tidak ada nashnya<br />
dari al Kitab dan As Sunnah baik secara jumlah (garis besarnya) dan<br />
tafsil atau secara tafsil (rinci) saja, maka sesungguhnya ia telah<br />
membuat syariat yang tidak diizinkan oleh Allah Jalla wa &#8216;Alaa.</p>
<p>Kepada mereka ini , Imam Syafi&#8217;I , telah memperingatkan dengan<br />
perkataannya yang masyhur :&#8221;man istahsana faqod syaro&#8217;a&#8221; &#8211; barang<br />
siapa yang menganggap baik (istihsan) &#8211; yakni tentang suatu amal yang<br />
tidak ada nash dan Sunnah &#8211; maka sesungguhnya ia telah membuat syariat<br />
baru !!!! Semoga Allah merahmati Imam Syafi&#8217;I yang terkenal dikalangan<br />
salaf sebagai naashirus sunnah (pembela sunnah).</p>
<p>Ketahuilah! Bahwa yang dimaksud oleh sebagian ulama boleh beramal<br />
dengan hadist-hadist dho&#8217;if untuk fadhail a&#8217;amal atau targhib dan<br />
tarhib , ialah apabila yelah datang nash yang shahih secara tafsil<br />
(rinci) yang menetapkan tentang suatu amal &#8211; baik wajib, sunat,haram<br />
atau makruh- kemudian datang hadist-hadist dho&#8217;if (yang ringan<br />
dho&#8217;ifnya) yang menerangkan tentang keutamaannya (fadha&#8217;il a&#8217;mal) atau<br />
targhib dan tarhib dengan syarat hadist-hadist tsb tidak sangat dho&#8217;if<br />
atau maudhu&#8217; (palsu), maka inilah yang dimaksud.</p>
<p>3.	Salah faham dengan perkataan Imam Ahmad bin Hambal dan ulama salaf<br />
lainnya yang semakna perkataannya dengan beliau yang menyatakan :</p>
<p>&#8220;Apabila kami meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam<br />
tentang halal, haram , sunan (sunat-sunat) dan ahkam, KAMI KERASKAN<br />
(yakni kami periksa dengan ketat) sanad-sanadnya. Dan apabila kami<br />
meriwayatkan dari nabi shalallahu alaihi wa sallam tentang FADHA ILUL<br />
A&#8217;MAL dan tidak menyangkut hukum dan tidak marfu&#8217; (tidak disandarkan<br />
kepada beliau shalallahuu alaihi wa sallam ) KAMI PERMUDAH di dalam<br />
(memeriksa) sanad-sanadntya. (shahih riwayat Imam Al Khatib al<br />
Bhagdhadi dikitabnya al kifaayah fi ilmir riwaayah hal 134)</p>
<p>Perkataan Imam Ahmad diatas diriwayatkan juga oleh Imam-imam yang lain<br />
(banyak sekali) tetapi tanpa tambahan : dan yang tidak marfu .<br />
Maksudnya : Riwayat-riwayat mauquf (yakni perkataan dan perbuatan<br />
shahabat) atau riwayat-rwayat dari tabi&#8217;in dan atha&#8217;ut taabi&#8217;in.<br />
Kebanyakan dari mereka dalam memahami perkataan Imam Ahmad diatas,<br />
bahwa BELIAU MEMBOLEHKAN mengamalkan hadist-hadist dha&#8217;if untuk fadha<br />
ilul a&#8217;mal !!</p>
<p>Jelas sekali , pemahaman diatas keliru bila ditinjau dari beberapa<br />
sudut ilmiah, diantaranyaa ialah :&#8221; bahwa yang dimaksud oleh Imam<br />
Ahmad bin Hambal dengan tasahul (bermudah-mudah) dalam fadha ilul<br />
a&#8217;mal ialah hadist-hadist yang DERAJATNYA HASAN (bukan hadist-hadist<br />
dha&#8217;if meskipun ringan kelemahannya) . Karena , hadist pada zaman<br />
beliau dan sebelumnya tidak terbagi kecuali menjadi 2 bagian : SHAHIH<br />
dan DHA&#8217;IF.</p>
<p>SEDANGKAN HADIST DHA&#8217;IF TERBAGI PULA MENJADI 2 BAGIAN</p>
<p>PERTAMA : hadist-hadist dha&#8217;if yang ditinggalkan , yakni tidak dapat<br />
diamalkan atau dijadikan hujjah.<br />
Kedua : Hadist-hadist dha&#8217;if yang dipakai, yakni dapat diamalkan atau<br />
dijadikan hujjah .<br />
Yang terakhir ini kemudian dimasyhurkan dan ditetapkan sebagai salah<br />
satu bagian dari derajat hadist oleh Imam Tirmidzi dengan istilah<br />
HADIST HASAN. Jadi , Imam Tirmidzi yang PERTAMA KALI membagi derajat<br />
hadist menjadi bagian : SHAHIH , HASAN dan DHA&#8217;IF.</p>
<p>Demikianlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul<br />
Qoyyim dan para ulama lainnya.</p>
<p>KEDUA</p>
<p>Menjelaskan kesalahan mereka yang TIDAK PERNAH memenuhi syarat-syarat<br />
yang telah dibuat oleh sebagian ulama dalam mengamalkan hadist dha&#8217;if<br />
untuk fadha ilul a&#8217;mal atau targhib dan tarhib.<br />
Ketahuilah !! Sesungguhnya ulama-ulama kita yang TELAH MEMBOLEHKAN<br />
beramal dengan hadist-hadist dha&#8217;if di atas , telah membuat BEBERAPA<br />
PERSYARATAN yang SANGAT BERAT dan KETAT.</p>
<p>Persayaratan tsb tidak akan dapat dipenuhi kecuali oleh mereka (ulama)<br />
yang membuatnya atau ulama-ulama yang memiliki kemampuan sangat tinggi<br />
dalam ilmu hadistnya (para muhadist).</p>
<p>Dibawah ini saya turunkan sejumlah persyaratan yang telah dibuat oleh<br />
para ulama kita Kemudian , saya iringi dengan beberapa keterangan yang<br />
sangat berfaedah. Insya Allahau ta&#8217;ala.</p>
<p>1.	Syarat pertama</p>
<p>Hadist tersebut khusus untuk fadhailul amal atau targhib dan tarhib.<br />
Tidak boleh untuk aqidah atau ahkam (spt hukum halal, haram ,wajib,<br />
sunat , makruh) atau tafsir Qur&#8217;an. Jadi , seorang yang akan<br />
membawakan hadist-hadist dho&#8217;if , terlebih dahulu HARUS MENGETAHUI<br />
mana hadist dha&#8217;if yang MASUK bagian fadha ilul a&#8217;mal dan mana hadist<br />
dha&#8217;if yang masuk bagian aqidah atau ahkam.</p>
<p>Tentu saja persyaratan pertama ini CUKUP BERAT dan tidak sembarang<br />
orang dapat mengetahui perbedaan hadist-hadist dha&#8217;if diatas kecuali<br />
mereka YANG BENAR-BENAR AHLI HADIST.</p>
<p>Kenyataannya, kebanyakan dari mereka (khususnya kaum KHUTOBAA&#8217;- para<br />
penceramah / khotib) tidak mampu dan telah melanggar persyaratan<br />
pertama ini.</p>
<p>Berapa banyak hadist-hadist dho&#8217;if tentang aqidah dan ahkam yang<br />
mereka sebarkan melaului mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan. !!!!</p>
<p>2.	Syarat kedua</p>
<p>Hadist tersebut TIDAK SANGAT DHOIF apalagi MAUDHU&#8217; , BATIL , MUNGKAR<br />
dan Hadist-hadist yang TIDAK ADA ASALNYA.</p>
<p>Yakni, yang boleh dibawakan hanyalah hadist-hadist yang ringan<br />
(kelemahannya) . Persyaratan kedua ini LEBIH BERAT dan SULIT<br />
dibandingkan dengan syarat yang pertama. Karena, untuk mengetahui<br />
suatu hadist itu derajatnya SHAHIH , HASAN, DHA&#8217;IF ringan , sangat<br />
DHA&#8217;IF , dst.</p>
<p>Bukanlah pekerjaan yang mudah sebagaimana telah dimaklumi oleh mereka<br />
yang faham betul dengan ilmu yang mulia ini.</p>
<p>Pekerjaan tsb merupakan yang sangat berat sekali yang hanya dapat<br />
dikerjakan oleh para AHLI HADIST yang benar-benar ahli. Dan<br />
persyaratan kedua inipun DILANGGAR besar-besaran . Berapa banyak<br />
hadist yang batil dan mungkar , sangat dha&#8217;if , maudhu&#8217; ,dan tidakada<br />
asalnya yg mereka sebarkan dengan lisan maupun tulisan.</p>
<p>Anehnya orang-orang jahil ini kalau dinasehati oleh ahli ilmu dengan<br />
cepat mereka menjawab :&#8221;Dibolehkan untuk Fadha ilul a&#8217;mal&#8221;. Lihatlah<br />
betapa sempurnanya kejahilan mereka !!!</p>
<p>3.	Syarat ketiga</p>
<p>Hadist tsb TIDAK BOLEH DI-I&#8217;TIQODKAN (diyakini) sebagai sabda Nabi<br />
Shalallahu alaihi wa sallam sebab bisa terkena ancaman beliau : yakni<br />
berdusta atas nama beliau. (Dapat dibaca tulisan saya : Ancaman<br />
berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam). Persyaratan<br />
ketiga ini SAMA SEKALI tidak dapat dipenuhi, yang membawakan dan<br />
mendengarkan betul-betul MENYAKINI sebagai sabda Nabi shalallahu<br />
alaihi wa sallam</p>
<p>4.	Syarat keempat</p>
<p>Hadist tsb harus mempunyai dasar yang umum dari hadist yang shahih .<br />
Persyaratan yang ke-4 ini selain susah dan lagi-lagi mereka tidak<br />
dapat memenuhinya, juga apabila TELAH ADA hadist yang shahih untuk<br />
apalagi segala macam hadist-hadist yang dha&#8217;if.</p>
<p>5.	Syarat ke-5</p>
<p>Hadist tsb TIDAK BOLEH DIMASYHURKAN (DIPOPULERKAN) . Menurut Imam ibnu<br />
Hajar rahimahulllah , apabila hadist-hadist dha&#8217;if itu dipopulerkan,<br />
niscaya akan terkena ancaman berdusta atas nama nabi Shalallahu alaihi<br />
wa sallam.</p>
<p>Lihatlah ! Ramai-ramai mereka menyebarkan dan mempopulerkan<br />
hadist-hadist dha&#8217;if , sangat dha&#8217;if , bahkan maudhu&#8217; sehingga umat<br />
lebih mengenal hadist-hadist tsb daripada hadist shahih. Innalillahi<br />
wa inna ilahi rooji&#8217;un !! Alangkah terkenanya mereka dengan ancaman<br />
nabi Shalallahu alaihi wa sallam.</p>
<p>6.	Syarat ke-6</p>
<p>Wajib memberikan bayan (PENJELASAN) bahwa hadist tersebut dha&#8217;if saat<br />
menyampaikan atau membawakannya. Kalau tidak , niscaya mereka terkena<br />
kepada kepada ancaman menyembunyikan ilmu dan masuk ke dalam ancaman<br />
Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :&#8221; Ancaman berdusta atas nama Nabi<br />
Shalallahu alaihi wa sallam&#8221;.</p>
<p>Demikian ketetapan para muhaqiq dari ahli hadist dan ulama ushul<br />
sebagaimana diterangkan oleh Abu Syaamah (baca Tamaamul minnah : Al<br />
Bani hal :32)</p>
<p>Inilah hukum orang yang &#8220;diam&#8221;, tidak menjelaskan hadist-hadist dha&#8217;if<br />
yang ia bawakan untuk fadhailul a&#8217;mal.<br />
Maka bagaimana dengan orang yang &#8220;diam&#8221; terhadap riwayat-riwayat yang<br />
bathil , sangat dha&#8217;if, atau maudhu untuk fadhailul a&#8217;mal ??? Benarlah<br />
para ulama kita &#8211; rahimahumullah- bahwa mereka terkena ancaman<br />
menyembunyikan ilmu dan berdusta atas nama nabi shalallahu alaihi wa<br />
sallam.</p>
<p>7.	Syarat ke-7</p>
<p>Dalam membawakannya TIDAK BOLEH menggunakan lafadz-lafadz jazm (yang<br />
menetapkan) seperti :&#8221;Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda<br />
atau mengerjakan sesuatu atau memerintahkan dan melarang dan lain-lain<br />
yang menunjukkan ketetapan atau kepastian bahwa Nabi Shalallahu alaihi<br />
wa sallam BENAR-BENAR bersabda dst.</p>
<p>Tetapi wajib menggunakan lafadz TAMRIDH (yaitu lafadz yang TIDAK<br />
MENUNJUKKAN sebagai sesuatu ketetapan) , seperti :</p>
<p>Telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam dan yang<br />
serupa dengannya dari lafadz tamridh sebagaimana telah dijelskan oleh<br />
imam Nawawi dalam muqoddimah kitabnya al majmu&#8217;syarah muhadzdzab<br />
(1/107) dan para ulama lainnya.</p>
<p>Persyaratannya yang terakhir ini , selain mereka tidak memiliki<br />
kemampuan , juga tidak bisa dipakai lagi pada jaman kita sekarang<br />
(dimana ilmu hadist sangat gharib / asing sekali).</p>
<p>Karena kebanyakan dari ahli ilmu sendiri (kecuali ahli hadist)<br />
teristimewa kaum khutobaa / para khatib dan orang awam tidak dapat<br />
membedakan antara lafadz jazm dan tamridh.</p>
<p>Dikutip dari risalah :<br />
Berhati-Hati Dalam Meriwayatkan Hadist Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam<br />
Dan Beberapa Kesalahan Dalam Meriwayatkan Dan Hukum Meriwayatkan Dan<br />
Mengamalkan Hadist-Hadist Dhaif Untuk Fadhaa-Ilul A&#8217;mal , Tagrib Dan<br />
Tarhib Dan Lain-Lain</p>
<p>Maraaji&#8217; :<br />
1)	Al Muhalla (1/2) Ibn Hazm<br />
2)	Al-Fash fil-milal wal-ahwaa wan-nihal (2/222) Ibn Hazm , tahqiq<br />
Doktor muhammad Ibrahim Nashr dan Doktor Abdurrahman &#8216;Umairah.<br />
3)	Al-Majmu&#8217; Syarah Muhadz-dzab (1/101 dan 107) imam Nawawi.<br />
4)	Majmu&#8217; Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (18/23-25 dan 65-66 dan<br />
249, 1/250-252)<br />
5)	A&#8217;laamul Muwaqi&#8217;in (1/31-32) Ibnul Qayyim.<br />
6)	Al-Kifaayah fil-ilmir-riwaayah (hal: 133 dan 134) Imam Al Khatib al Bhagdadi.<br />
7)	Al-Madkhal (hal :29) Imam Hakim. <img src='http://blog.tokoislam.info/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Muqaddimaha Ibnu Shallah (hal : 49) Imam Ibnu Shalah.<br />
9)	An-Nukat &#8216;ala Kitabi Ibnu Shalah (2/887-888) Ibnu Hajar<br />
10)	Tadribur-raawi (1/298-299) Imam As Suyuthi<br />
11)	Al-Qaulul- Badii&#8217;fish Shalaati alal Habibisy-Syafi&#8217; I (hal :<br />
258-260 akhir kitab) Imam As Shakhaawiy.<br />
12)	Qawwwa&#8217;idut tahdist (hal :113-121) Al Qaasimi.<br />
13)	Taujihun Nazhar ila Ushulil Aatsar (hal 297)<br />
14)	Al I&#8217;thishom (1/224-231) Imam Syaathibiy , tahqiq &#8216;Allamah Sayyid<br />
Rasyid Ridha.<br />
15)	Ikhtishar &#8216;Ulumul Hadist (hal : 90-92) Ibnu Katsir tahqiq Ahmad Syakir.<br />
16)	Muqoddimah al Adzkar (hal : 5-6) Imam Nawawi<br />
17)	Tamaamul Minnah (hal : 32-40) al Albani<br />
18)	Muqoddimah Shahih Jami&#8217;us Shaghir (1/44-51) Al Albani<br />
19)	Muqoddimah Dho&#8217;if Jami&#8217;us Shaghir (1/44-51) Al Albani<br />
20)	Silsilatul AhaadistAdh Dha&#8217;ifah wal Maudhu&#8217;ah (3/21-26) al Albani<br />
21)	21. Muqaddimah Shahih Targhib , Al Albani.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/ilmu-hadits/hukum-meriwayatkan-dan-mengamalkan-hadist-hadist-dhaif-untuk-fadhaa-ilul-amal-keutamaan-amal-targhib-dan-tarhib-dan-lain-lain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
