<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Toko Islam Indonesia &#187; Fiqih</title>
	<atom:link href="http://blog.tokoislam.info/category/fiqih/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tokoislam.info</link>
	<description>Kumpulan Artikel &#124;herbal&#124;Islam&#124;Nasehat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 03:17:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hukum Menipiskan Alis, Memanjangkan Kuku, dan Pakai Cutek</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/fiqih/hukum-menipiskan-alis-memanjangkan-kuku-dan-pakai-cutek</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/fiqih/hukum-menipiskan-alis-memanjangkan-kuku-dan-pakai-cutek#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 02:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz Pertanyaan: 1) Bagaimanakah hukum menipiskan bulu alis yang tumbuh lebat? 2) Bagaimanakah hukum memanjangkan kuku serta meletakkan cutek di atasnya? Saya biasanya berwudhu dulu sebelum memakai cutek dan membiarkan selama 24 jam sebelum akhirnya saya hapuskan. 3) Bolehkah bagi seorang wanita muslimah memakai pakaian yang menutupi tubuhnya, tanpa memakai kain penutup muka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> Syaikh Ibnu Baz</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Pertanyaan: </strong><br />
<em>1) Bagaimanakah hukum menipiskan bulu alis yang tumbuh lebat? 2) Bagaimanakah hukum memanjangkan kuku serta meletakkan cutek di atasnya? Saya biasanya berwudhu dulu sebelum memakai cutek dan membiarkan selama 24 jam sebelum akhirnya saya hapuskan. 3) Bolehkah bagi seorang wanita muslimah memakai pakaian yang menutupi tubuhnya, tanpa memakai kain penutup muka (cadar) ketika keluar rumah (bepergian)? </em></p>
<p><strong>Jawaban:<span id="more-365"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal">1) Tidak diperbolehkan mencabut (mencukur) bulu alis dan tidak juga menipiskannya, berdasarkan keterangan yang ditegaskan oleh Nabi a, bahwa beliau melaknat wanita yang menghilangkan dan yang dihilangkan bulu alisnya. Para ulama telah menjelaskan bahwa mencabut bulu alis termasuk menghilangkannya.</p>
<p>2) Memanjangkan kuku termasuk perbuatan yang berten-tangan dengan ketentuan as-Sunnah, di mana Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda,</p>
<p class="MsoNormal">اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ اَلْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيْمُ اْلأَظَافِرِ وَنَتْفُ اْلإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Hal yang fitrah itu ada lima atau lima hal merupakan fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari, bab pakaian (5889); Muslim, bab bersuci (257))</p>
<p>Kuku tidak boleh dibiarkan panjang hingga 40 (empat puluh) hari. Hal itu berdasarkan keterangan dari Anas Radhiyallahu &#8216;anhu , seraya berkata, &#8220;Telah ditentukan bagi kita (kaum muslimin) batas waktu mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur rambut kemaluan, bahwa tidak boleh membiarkannya lebih dari 40 (empat puluh) malam.&#8221; (HR. Muslim, bab bersuci (258)). Memanjangkan kuku dikategorikan menyerupai binatang dan sebagai orang kafir.</p>
<p>Adapun berkenaan dengan cutek, maka meninggalkannya lebih utama, dan wajib menghilangkannya ketika wudhu, karena ia menghalangi sampainya air pada kuku.</p>
<p>3) Wajib bagi seorang wanita muslimah memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dari laki-laki lain (bukan mahramnya) ketika di dalam maupun di luar rumah. Hal tersebut berdasarkan firman Allah q,<br />
<em>&#8220;Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.&#8221;</em> (Al-Ahzab: 53)</p>
<p>Ayat al-Qur&#8217;an ini mencakup muka dan anggota tubuh lainnya. Karena muka menjadi simbol kecantikan seorang wanita dan yang paling banyak hiasannya, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman,<br />
<em>&#8220;Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perem-puanmu dan isteri-isteri orang mukmin, &#8216;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.&#8217; Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; </em>(Al-Ahzab: 59)</p>
<p>Ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan tentang wajibnya memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya bagi seorang wanita muslimah, baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya, baik kaum laki-laki yang muslim maupun yang kafir. Tidak diperbolehkan bagi seorang wanita pun yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan RasulNya serta hari akhir menganggap sepele perintah tersebut, karena menyepelekannya merupakan perbuatan maksiat terhadap Allah dan RasulNya. Juga memperlihatkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan kaum laki-laki selain yang dise-butkan di dalam al-Qur&#8217;an niscaya akan menimbulkan fitnah baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah.</p>
<p><strong>Rujukan:</strong><br />
Fatawa al-Mar&#8217;ah, hal. 86. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/fiqih/hukum-menipiskan-alis-memanjangkan-kuku-dan-pakai-cutek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah darah membatalkan shalat/wudhu?</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/fiqih/apakah-darah-membatalkan-shalatwudhu</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/fiqih/apakah-darah-membatalkan-shalatwudhu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 02:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Lajnah Daimah Pertanyaan: Saya ingin mendapatkan pengetahuan tentang permasalahan darah. Apakah darah membatalkan shalat? Jawaban:Segala puji semata-mata bagi Allah dan semoga salawat dan salam dilimpahkan kepada utusan-Nya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , keluarganya dan para sahabatnya. Selanjutnya, kami tidak mengetahui dalil yang menyatakan tentang keluarnya darah dari selain bagian tubuh yang pribadi (kemaluan) dapat membatalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> Lajnah Daimah</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Pertanyaan: </strong><br />
<em>Saya ingin mendapatkan pengetahuan tentang permasalahan darah. Apakah darah membatalkan shalat?</em></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Jawaban:<span id="more-361"></span></strong>Segala puji semata-mata bagi Allah dan semoga salawat dan salam dilimpahkan kepada utusan-Nya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , keluarganya dan para sahabatnya.</p>
<p>Selanjutnya, kami tidak mengetahui dalil yang menyatakan tentang keluarnya darah dari selain bagian tubuh yang pribadi (kemaluan) dapat membatalkan wudhu, dan prinsip dasarnya adalah bahwa darah yang keluar dari selain kemaluan adalah tidak membatalkan.</p>
<p>Pelaksanaan shalat dalilnya adalah berdasarkan al-quran dan sunnah. Jadi tidak dibolehkan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa pelaksanaan shalat adalah syah kecuali dengan dalil.</p>
<p>Dan sesungguhnya ada beberapa orang ulama memiliki pendapat bahwa keluarnya darah dalam jumlah yang banyak dari bagian tubuh yang bukan kemaluan adalah membatalkan wudhu. Jadi jika seseorang yang mengeluarkan darah kemudian mengulang wudhunya karena bersikap hati-hati dan untuk menghindari perbedaan pendapat maka ini adalah (sesuatu yang) baik. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :&#8221;Tinggalkanlah sesuatu yang menyebabkan kamu ragu sehingga tidak menimbulkan keraguanmu.&#8221; (HR. An-Nasaa&#8217;i dan At-Tirmidzi)</p>
<p>Semoga Allah melimpahkan Taufiq-Nya dan semoga salawat dan salam tercurahkan buat Rasulullah Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , keluarganya dan para sahabatnya.</p>
<p><strong>Rujukan:</strong><br />
Question 2 from fatwa 2461 P261 volume 5 Fataawa of the Permanent Committee. Diterjemahkan dari: http://www.fatwaislam.com</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/fiqih/apakah-darah-membatalkan-shalatwudhu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petunjuk UDHHIYAH (KURBAN)</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/fiqih/petunjuk-udhhiyah-kurban</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/fiqih/petunjuk-udhhiyah-kurban#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 01:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh Abu Ubaidah PENGERTIAN UDHHIYAH Udhhiyah ialah bintang ternak yang disembelih pda hari raya haji dan pada hai-hari tasyriq demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. HUKUM UDHHIYAH Hukumnya wajib atas orang yang mampu berkurban. Rasulullah menegaskan : “Barangsiapa mempunyai kemampuan, namun ia tidak(mau) berkurban, makan janganlah sekali-kali ia mendekat ke mushalla kami.” (Hasan:Shahih Ibnu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;"><span style="text-decoration:underline;"><em><strong>Ditulis Oleh Abu Ubaidah</strong></em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>PENGERTIAN UDHHIYAH</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Udhhiyah ialah bintang ternak yang disembelih pda hari raya haji dan pada hai-hari tasyriq demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">HUKUM UDHHIYAH</p>
<p style="margin-bottom:0;">Hukumnya wajib atas orang yang mampu berkurban. Rasulullah menegaskan :</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">“<em>Barangsiapa mempunyai kemampuan, namun ia tidak(mau) berkurban, makan janganlah sekali-kali ia mendekat ke mushalla kami.</em>” (Hasan:Shahih Ibnu Majah no:2532 dan Ibnu Majah II: 1044 no:3132).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Dalam kitab As-Sailul Jarrar disebutkan:</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Wajhul istidlal </strong>(arah pengambilan dalil) dengan hadits di atas, yaitu bahwa tatkala Nabi melarang orang yang mampu berkorban mendekat ke mushalla bila ia tidak mau berkurban, hal tersebut menunjukkan bahwa ia telh meninggalkan suatu kewajiban.maka seolah-olah sama sekali tak ada faedahnya bagi seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah dengan mengerjakan shalat (Id) namun meninggalkan kewajiban ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Dari Mukhaffif bin Sulaim, ia berkata : Kami pernah wukuf di Arafah di dekat Nabi.Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya setiap ahli bait dalam setiap tahun wajib berkurban dan harus menyembelih binatang untuk bulan Rajab”.Tahukah kalian, apa itu penyembelihan binatang untuk bulan rajab?Yaitu penyembelihan binatang yang oleh orang-orang di sebut rajabiyah.”</em> ( Hasan: Shahih Ibnu Majah no:2533, Tirmidzi III: 37 no:1555, ‘Aunul Ma’bud VII:481 no:2771, Ibnu Majah II: 1045 no:3125 dan Nasa’I VII:167).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Kemudian penyembelihan untuk bulan rajab di hapus  oleh sabda Nabi :</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Tidak ada penyembelihan untuk mencari barakah dan tidak ada penyembelihan untuk bulan Rajab.</em>(Mutatafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX: 596 no:5473, Muslim III:1564 no:1976, ‘Aunul Ma’bud VIII:32 no:2814, Tirmidzi III:34 no:1548, dan nasa’I VII:167).</p>
<p style="margin-bottom:0;">Dimansukhnya (dihapusnya) penyembelihan untuk bulan Rajab tidak memastikan dihapuskannya udhhiyah.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Dari Jundab bin Sufyan al-Bajili, ia berkata, “ Pada hari nahr saya pernah menyaksikan Rasulllah bersabda, “ Barangsiapa menyembelih (binatang qurban) sebelum shalat, maka hendaklahy ia mengulangi (menyembelih lagi) sebagai gantinya, dan barangsiapa yang belum menyembelih, maka menyembelihlah.”</em>(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari X:20 no:5562, Muslim III : 1551 no:1960, Ibnu Majah II: 1053 no:3152 dan Nasa’I VII:224).</p>
<p style="margin-bottom:0;"><span id="more-280"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Jelas dalil di atas menunjukkan wajibnya berkurban, apalagi diiringi  dengan perintah mengulangi. Selesai (As-Sailul Jarrar IV:74-75 dengan sedikit perubahan).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>BINATANG TERNAK YANG BOLEH DISEMBELIH SEBAGAI QURBAN.</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Binatang ternak yang sah dijadikan sebagai qurban hanyalah sapi, kambing dan unta. Hal ini mengacu pada firman Allah :</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Dan bagi tiap-tiap ummat telah Kami syari’atkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka.”</em>(QS.al-Hajj:34).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>SEEKOR UNTA DAN SEEKOR SAPI, UNTUK BERAPA ORANG</strong>.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Kami pernah bepergian bersama Nabi lalu tibalah Idul Adha, kemudian kami bersekutu dalam seekor unta sembelihan untuk sepuluh orang, dan dalam seekor sapi untuk tujuh orang”</em> (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:2536, Ibnu Majah II:1047 no:3131, Tirmidzi II:194 no:907 dan Nasa’I VII:222).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>SEEKOR KAMBING UNTUK SEKELUARGA</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Dari Athaa bin Yasar, ia bertutur : Saya pernah bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari, “Bagaimana pelaksanaan kurban kalian pada masa Rasulullah?”Jawabnya, “Adalah seorang sahabat pada periode Nabi menyembelih seekor  kambing untuk dirinya dan untuk keluarganya, lalu mereka memakannya dan membagikannya (kepada fakir miskin), kemudian manusia saling berbangga-bangga (dengan kurban-kurban mereka) seperti  yang kau lihat sekarang ini.”</em> (Shahih:Shahih Ibnu Majah no:2546, Ibnu Majah II:1051 no:3147, dan Tirmidzi III:31 no:1541)</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>BINATANG YANG TIDAK BOLEH DISEMBELIH SEBAGAI QURBAN</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Dari Ubaid bin Fairuz, ia bercerita : Saya pernah bertanya kepada al-Bara’ bin ‘Azib, ‘(Tolong) jelaskan kepadaku binatang qurban yang dibenci atau dilarang oleh Rasulullah.”Jawabnya : Rasulullah berisyarat begini dengan tanganya, sedang tanganku lebih pendek daripada tangan Beliau, sambil bersabda, “Ada empat binatang yang tidak boleh dipakai buat qurban, yaitu : inatang yang buta nyata kebutaannya,yang sakit yang nyata sakitnya,yang pincang yang nyata pincangnya, dan yang patah tidak dapat disembuhkan.”</em></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Kata Ubaid bin Fairuz (lagi), “ Maka sesungguhnya aku membenci binatang qurban yang cuil telinganya.” Lalu kata al-Bara’, Maka binatang Qurban yang kau benci, tinggalkanlah ia, namun janganlah engkau mengharamkannya atas orang lain</em>.”( Shahih:Shahih Ibnu Majah no:2545, Ibnu Majah II:1050 no:3144, ‘Aunul Ma’bud VII:505 no:2785, Nasa’I VII:214, dan Tirmidzi III: 27 no:1530 secara ringkas).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>KAMBING KACANG TIDAK CUKUP DIJADIKAN QURBAN</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Dari baraa’ bin Azib ia bertutur : Pamanku dari pihak ibu namanya Abu Burdah menyembelih qurban sebelum shalat (‘id), lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Kambingmu itu adalah kambing daging.” Kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku (masih) punya kambing kacangan jadza’ah yang jinak.”Maka sabda Nabi, Sembelihlah dia , namun dia tidak patut untuk selain engkau.”kemudian Beliau Bersabda, “barangsiapa menyemmbelih (qurban) sebelum shalat (‘id), maka dia hanya menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa menyembelih sesudah shalat, maka sungguh tel;ah sempurna qurabannya dan sesuai dengan sunnah kaum Muslimin.”</em> (Muttafaqun’alaih: Fathur Bari X:12 no:5557, Muslim III:1552 no:1961, sema’na diriwayatkan Tirmidzi III:32 no : 5557, Muslim III:no:1544, ‘Aunul Ma’bud VII:504 no:2783, dan Nasa’I VII:222).  <em> </em></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Sumber : AL-WAJIZ Karya ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi, Hal .777 &#8211; 781</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/fiqih/petunjuk-udhhiyah-kurban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menyemir Rambut Warna-warni</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/fiqih/hukum-menyemir-rambut-warna-warni</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/fiqih/hukum-menyemir-rambut-warna-warni#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 02:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimanakah hukum menyemir rambut dengan warna merah, kuning atau warna lain? Jawaban: Syaikh Ibnu Jibrin Menyemir rambut dengan warna yang bermacam-macam adalah suatu mode yang sedang trend dan mereka menyebutnya dengan semir. Terkadang anda menemukan sebagian pelancong wanita dari negara-negara barat tampil di hadapan kaum laki-laki dengan kepala dan muka terbuka (tanpa kain penutup). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p>Pertanyaan:</p>
<p class="MsoNormal"><em>Bagaimanakah hukum menyemir rambut dengan warna merah, kuning atau warna lain? </em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong><span id="more-259"></span></p>
<p class="MsoNormal">Syaikh Ibnu Jibrin</p>
<p class="MsoNormal">Menyemir rambut dengan warna yang bermacam-macam adalah suatu mode yang sedang trend dan mereka menyebutnya dengan semir. Terkadang anda menemukan sebagian pelancong wanita dari negara-negara barat tampil di hadapan kaum laki-laki dengan kepala dan muka terbuka (tanpa kain penutup). Bahkan sebagian mereka menyemir rambutnya dengan warna merah, sebagian lagi dengan warna kuning dan sebagian lagi dengan warna biru dan warna-warna lainnya, di mana hal itu dimak-sudkan untuk memalingkan atau mengundang pandangan serta menyebarkan fitnah kepada anak-anak muda. Sayangnya kemudian penampilan dan keburukan tersebut ditiru oleh kaum wanita di negara-negara Arab dan negara-negara yang pendu-duknya mayoritas muslim, bahkan terkadang suami mereka memerintahkannya, karena suami mereka melihat para pelancong wanita dari negara-negara barat yang berpenampilan demikian sangat mempesona hatinya, sehingga suami mereka merasa senang.</p>
<p>Jika penyemiran rambut seperti itu ditiru juga oleh isteri-isterinya, meski penyemiran rambut seperti itu dapat memalingkan pandangan yang nakal dan jahat. Dalam hadits telah dijelaskan mengenai larangan menyemir rambut dan larangan memakai rambut palsu, di mana dilarang menyemir uban dengan warna hitam, tetapi boleh menyemirnya dengan warna merah, dan penyemirannya itu hanya dilakukan dengan pohon pacar dan pohon katam (jenis tumbuh-tumbuhan) saja. Dengan demikian penyemiran rambut itu diperbolehkan apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.</p>
<p><strong>Rujukan:</strong><br />
al-Kanzu ats-Tsamin. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/fiqih/hukum-menyemir-rambut-warna-warni/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

