<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Toko Islam Indonesia &#187; FATWA</title>
	<atom:link href="http://blog.tokoislam.info/category/fatwa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tokoislam.info</link>
	<description>Kumpulan Artikel &#124;herbal&#124;Islam&#124;Nasehat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 03:17:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>FATWA ULAMA SEPUTAR BENCANA DI PALESTINA</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/fatwa/fatwa-ulama-seputar-bencana-di-palestina</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/fatwa/fatwa-ulama-seputar-bencana-di-palestina#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 02:16:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Lajnah Da&#8217;imah Lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta&#8217; Kamis, 01 2009 &#8211; 07:58:40 Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’da; Sesungguhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Lajnah Da&#8217;imah Lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta&#8217;<br />
Kamis, 01 2009 &#8211; 07:58:40</p>
<p>Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam.<br />
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada<br />
nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad dan<br />
kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan<br />
ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa<br />
ba’da;</p>
<p>Sesungguhnya Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal<br />
Ifta’ (Dewan Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa) di<br />
Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang<br />
terjadi) dengan penuh kegalauan dan kesedihan akan apa<br />
yang telah terjadi dan sedang terjadi yang menimpa<br />
saudara-saudara kita muslimin Palestina dan lebih khusus<br />
lagi di Jalur Gaza, dari angkara murka dan terbunuhnya<br />
anak-anak, kaum wanita dan orang-orang yang sudah renta,<br />
dan pelanggaran- pelanggaran terhadap kehormatan,<br />
rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan dan<br />
pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini adalah<br />
kejahatan dan kedzaliman terhadap penduduk Palestina.<br />
<span id="more-322"></span><br />
Dan dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini wajib<br />
atas ummat Islam berdiri satu barisan bersama<br />
saudara-saudara mereka di Palestina dan bahu membahu<br />
dengan mereka, ikut membela dan membantu mereka serta<br />
bersungguh-sungguh dalam menepis kedzaliman yang menimpa<br />
mereka dengan sebab dan sarana apa pun yang mungkin<br />
dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan<br />
seikatan iman. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya<br />
orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (Al Hujurat: 10)<br />
dan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman: “Orang-orang<br />
mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian<br />
mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”.<br />
(At-Taubah: 71) dan Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam<br />
bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah<br />
seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau<br />
menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya)”.<br />
(Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda:<br />
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih<br />
sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka<br />
adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya<br />
yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan<br />
tidak bisa tidur”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga<br />
bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim<br />
lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya,<br />
tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya” . (HR. Muslim)</p>
<p>Dan pembelaan bentuknya umum mencakup banyak aspek sesuai<br />
kemampuan sambil tetap memperhatikan keadaan, apakah dalam<br />
bentuk benda atau suatu yang abstrak dan apakah dari awam<br />
muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian, dan<br />
yang lain sebagainya. Atau dari pihak pemerintah Arab dan<br />
negeri-negeri Islam dengan mempermudah sampainya<br />
bantuan-bantuan kepada mereka dan mengambil posisi<br />
dibelakang mereka dan membela kepentingan- kepentingan<br />
mereka di pertemuan-pertemuan , acara-acara, dan<br />
musyawarah-musyawar ah antar negara dan dalam negeri. Semua<br />
itu termasuk ke dalam bekerjasama di atas kebajikan dan<br />
ketakwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya: “Dan<br />
bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan”.<br />
(Al Ma’idah: 2)</p>
<p>Dan termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat<br />
kepada mereka dan menunjuki mereka kepada setiap kebaikan<br />
bagi mereka. Dan diantaranya yang paling besar, mendoakan<br />
mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari<br />
mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka dan<br />
mendoakan mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka dan<br />
membimbing amalan dan ucapan mereka.</p>
<p>Dan sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara<br />
kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada<br />
Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami<br />
mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran dan<br />
meninggalkan perpecahan dan pertikaian, serta menutup<br />
celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan<br />
akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan<br />
tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.</p>
<p>Dan kami menganjurkan kepada semua saudara-saudara kami<br />
untuk menempuh sebab-sebab agar terangkatnya<br />
kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka sambil tetap<br />
menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah Ta’ala dan<br />
mencari keridha’an-Nya dan mengambil bantuan dengan<br />
kesabaran dan shalat dan musyawarah dengan para ulama dan<br />
orang-orang yang berakal dan bijak disetiap urusan mereka,<br />
karena itu semua potensial kepada taufik dan benarnya<br />
langkah.</p>
<p>Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang<br />
berakal di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya<br />
untuk melihat kepada bencana ini dengan kacamata orang<br />
yang berakal dan sikap yang adil untuk memberikan kepada<br />
masyarakat Palestina hak-hak mereka dan mengangkat<br />
kedzaliman dari mereka agar mereka hidup dengan kehidupan<br />
yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada<br />
setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan<br />
membantu mereka dari negara-negara dan individu.</p>
<p>Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang husna<br />
dan sifat-sifat- Nya yang tinggi untuk menyingkap kesedihan<br />
dari ummat ini dan memuliakan agama-Nya dan meninggikan<br />
kalimat-Nya dan memenangkan para wali-Nya dan menghinakan<br />
musuh-musuh- Nya dan menjadikan tipu daya mereka boomerang<br />
bagi mereka dan menjaga ummat Islam dari<br />
kejahata-kejahatan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong<br />
kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.</p>
<p>Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada<br />
Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta shahabatnya<br />
dan ummatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari<br />
kiamat.</p>
<p>Diterjemahkan dari<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=152" target="_blank">http://www.sahab. net/home/ index.php? threads_id= 152</a></p>
<p>sumber Milis Assunnah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/fatwa/fatwa-ulama-seputar-bencana-di-palestina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/fatwa/hukum-perayaan-menyambut-tahun-baru</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/fatwa/hukum-perayaan-menyambut-tahun-baru#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 04:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Al-Lajnah Ad-Da&#8217;imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta Pertanyaan. Al-Lajnah Ad-Da&#8217;imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya : [1]. Pada beberapa hari belakangan ini, kami menyaksikan betapa gencarnya liputan mass-media mass-media (cetak maupun elektronik) dalam rangka menyambut datangnya tahun 2000M dan permulaan Milenium Ketiga seputar kejadian-kejadian dan prosesi-prosesinya. Terlihat bahwa orang-orang kafir dari kalangan yahudi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Al-Lajnah Ad-Da&#8217;imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Al-Lajnah Ad-Da&#8217;imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya :<br />
[1]. Pada beberapa hari belakangan ini, kami menyaksikan betapa gencarnya liputan mass-media mass-media (cetak maupun elektronik) dalam rangka menyambut datangnya tahun 2000M dan permulaan Milenium Ketiga seputar kejadian-kejadian dan prosesi-prosesinya. Terlihat bahwa orang-orang kafir dari kalangan yahudi dan nashrani serta selain mereka begitu suka cita menggantungkan harapan-harapan dengan adanya hal itu.</p>
<p>Pertanyaannya, wahai Syaikh yang mulia. Sesungguhnya sebagian mereka yang menisbatkan diri sebagai orang Islam telah juga menunjukkan perhatiannya terhadap hal ini dan menganggapnya sebagai momentum bahagia sehingga mengaitkan hal itu dengan pernikahan, pekerjaan mereka atau memajang/menempelkan pengumuman tentang hal itu di altar-altar perdagangan atau perusahaan mereka dan lain sebagainya yang menimbulkan dampak negatif bagi seorang Muslim.</p>
<p>Dalam hal ini, apakah hukum mengangungkan momentum seperti itu dan menyambutnya serta saling mengucapkan selamat karenanya, baik secara lisan, melalui kartu khusus yang dicetak dan lain sebagainya, menurut syari&#8217;at Islam ? Semoga Allah memberikan ganjaran pahala kepada anda atas amal shalih terhadap Islam dan kaum Muslimin dengan sebaik-baik ganjaran.</p>
<p>[2]. Dalam versi pertanyaan yang lain : Orang-orang yahudi dan nashrani bersiap-siap untuk menyambut datang tahun baru 2000 Masehi berdasarkan sejarah mereka dalam bentuk yang tidak lazim demi mempromosikan program-program serta keyakinan-keyakinan mereka di seluruh dunia, khususnya di negeri-negeri Islam.</p>
<p>Sebagian kaum Muslimin telah terpengaruh dengan promosi ini sehingga mereka nampak mempersiapkan segala sesuatunya untuk hal itu, dan di antara mereka ada yang mengumumkan potongan harga (diskon) atas barang dagangannnya spesial buat momentum ini. Kiranya, dikhawatirkan kelak hal ini berkembang menjadi aqidah kaum Muslimin di dalam ber-wala&#8217; (loyal) terhadap orang-orang non Muslim.</p>
<p>Kami berharap mendapatkan penjelasan anda seputar hukum keikutsertaan kaum Muslimin dalam momentum-momentum kaum kafir, mempromosikan hal itu dan menyambutnya. Demikian juga hukum menon-aktifkan kegiatan kerja oleh sebagian lembaga dari perusahaan berkenaan dengan hal itu.</p>
<p>Apakah melakukan sesuatu dari hal-hal tersebut dan semisalnya atau rela terhadapnya mempengaruhi aqidah seorang Muslim ?</p>
<p>Jawaban.<span id="more-301"></span><br />
Sesungguhnya nikmat yang paling besar yang dianugrahkan oleh Allah kepada para hambaNya adalah nikmat Islam dan hidayah kepada jalanNya yang lurus. Di antara rahmatNya pula, Allah Ta&#8217;ala mewajibkan kepada para hambaNya, kaum Mukminin, agar memohon hidayahNya di dalam shalat-shalat mereka. Mereka memohon kepadaNya agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan mantap di atasnya. Dalam hal ini, Allah Ta&#8217;ala telah memberikan spesifikasi jalan (shirath) ini sebagai jalan para Nabi, Ash-Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shalih yang Dia anugrahkan nikmatNya kepada mereka. Jadi, bukan jalan orang-orang yahudi, nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrik yang menyimpang darinya.</p>
<p>Bila hal ini sudah diketahui, maka adalah wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal kadar nikmat Allah kepadanya sehingga dengan itu, dia mau bersyukur kepadaNya melalui ucapan, perbuatan dan keyakinan. Dalam pada itu, dia juga akan menjaga nikmat ini dan membentenginya serta melakukan sebab-sebab yang dapat menjaga hilangnnya nikmat tersebut.</p>
<p>Bagi orang yang diberikan bashiroh (pemahaman mendalam) terhadap Dienullah di saat kondisi dunia dewasa ini yang diselimuti oleh pencampuradukan antara al-haq dan kebatilan pada kebanyakan orang, dia akan mengetahui dengan jelas upaya keras yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus kebenarannya dan memadamkan cahayanya, upaya menjauhkan kaum Muslimin darinya serta memutuskan kontak mereka dengannya melalui berbagai sarana yang memungkinkan. Belum lagi, upaya memperburuk citra Islam dan melabelkan tuhudan dan kebohongan-kebohongan terhadanya guna menghadang seluruh manusia dari jalan Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad bin Abdullah. Pembenaran statement ini dibuktikan oleh firman-firman Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kami beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran&#8221; [Al-Baqarah : 109]</p>
<p>&#8220;Artinya : Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya&#8221; [Ali-Imran : 69]</p>
<p>&#8220;Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi&#8221; [Ali-Imran : 149]</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah, Hai ahli kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan, &#8220;Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan&#8221; [Ali Imran : 99]</p>
<p>Dan ayat-ayat lainnya. Akan tetapi meskipun demikian, Allah Ta&#8217;ala telah berjanji untuk mejaga dienNya dan kitabNya, dalam firmanNya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur&#8217;an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya&#8221; [Al-Hijr : 9]</p>
<p>Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak.</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa akan selalu muncul suatu golongan dari umatnya yang berjalan di atas al-haq, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka ataupun menentang mereka hingga terjadi hari Kiamat. Segala puji bagi Allah pujian yang banyak dan kita memohon kepadaNya Yang Maha Dekat dan Mengabulkan Permohonan agar menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum Muslimin termasuk dari golongan tersebut, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.</p>
<p>Dengan ini, Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta setelah mendengar dan melihat adanya penyambutan yang demikian meriah dan perhatian yang serius dan beberapa golongan orang-orang yahudi dan nashrani serta orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam yang terpengaruh oleh mereka berkenaan dengan telah berakhirnya momentum tahun 2000 dan menyongsong Milenium Ketiga menurut Kalender Masehi, maka suka tidak suka, Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta wajib memberikan nasehat dan penjelasan kepada seluruh kaum Muslimin tentang hakikat momentum ini serta hukum syariat yang suci ini terhadapnya sehingga kaum Muslimin memahami dengan baik dien mereka dan berhati-hati. Dengan demikian, tidak terjerumus ke dalam kesesatan-kesesatan orang-orang yahudi yang dimurkai dan orang-orang nashrani yang sesat.</p>
<p>Karenanya, kami menyatakan.</p>
<p>Pertama.<br />
Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nashrani menggantungkan kejadian-kejadian, keluh-kesah dan harapan-harapan mereka kepada momentum Milenium ini dengan begitu yakin akan terealisasinya hal itu atau paling tidak, hampir demikian karena menurut anggapan mereka hal ini sudah melalui proses kajian dan penelitian. Demikian pula, mereka mengait-ngaitkan sebagian permasalahan aqidah mereka dengan momentum ini dengan anggapan bahwa hal itu berasal dari ajaran kitab-kitab mereka yang sudah dirubah. Jadi, adalah wajib bagi seorang Muslim untuk tidak menoleh kepada hal itu dan tergoda olehnya bahkan semestinya merasa cukup dengan Kitab Rabbnya Ta&#8217;ala dan Sunnah Nabinya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan tidak memerlukan lagi selain keduanya. Sedangkan teori-teori dan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan keduanya, ia tidak lebih hanya sekedar berupa ilusi belaka.</p>
<p>Kedua.<br />
Momentum ini dan semisalnya tidak luput dari pencampuradukan antara al-haq dan kebatilan, propaganda kepada kekufuran, kesesatan, permisivisme (serba boleh) dan atheisme serta pemunculan sesuatu yang menurut syari&#8217;at adalah sesuatu yang mungkar. Di antara hal itu adalah propaganda kepada penyatuan agama-agama (pluralisme), penyamaan Islam dengan aliran-aliran dan sekte-sekte sesat lainnya, penyucian terhadap salib dan penampakan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar kekufuran yang dilakukan oleh orang-orang nashrani dan yahudi serta perbuatan-pebuatan dan ucapan-ucapan semisal itu yang mengandung beberapa hal ; bisa jadi, pernyataan bahwa syari&#8217;at nashrani dan yahudi yang sudah diganti dan dihapus tersebut dapat menyampaikan kepada Allah. Bisa jadi pula, berupa anggapan baik terhadap sebagian dari ajaran kedua agama tersebut yang bertentangan dengan dien al-Islam. Atau hal selain itu yang merupakan bentuk kekufuran kepada Allah dan RasulNya, kepada Islam dan ijma&#8217; umat ini. Belum lagi, hal itu adalah sebagai salah satu sarana westernisasi kaum Muslimin dari ajaran-ajaran agama mereka.</p>
<p>Ketiga<br />
Banyak sekali dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka. Di antara hal itu adalah menyerupai mereka dalam perayaan hari-hari besar dan pesta-pesta mereka. Hari besar (&#8216;Ied) maknanya (secara terminologis) adalah sebutan bagi sesuatu, termasuk didalamnya setiap hari yang datang kembali dan terulang, yang diagung-agungkan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan. Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini maka itu termasuk hari besar (&#8216;Ied) mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya terhadap hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat yang mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam dien Islam, demikian pula, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya juga termasuk ke dalam hal itu. Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firmanNya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu&#8221; [Al-Furqan : 72]</p>
<p>Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi&#8217; bin Anas menafsirkan kata &#8220;Az-Zuura&#8221; (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.</p>
<p>Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu &#8216;anhu, dia berkata, Saat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar (&#8216;Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, &#8220;Dua hari untuk apa ini ?&#8221;. Mereka menjawab, &#8220;Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah&#8221;. Lantas beliau bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri&#8221; [1]</p>
<p>Demikian pula terdapat hadits yang shahih dari Tsabit bin Adl-Dlahhak Radhiyallahu &#8216;anhu bahwasanya dia berkata, &#8220;Seorang laki-laki telah bernadzar pada masa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sembari berkata.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya, &#8216;Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah ? Mereka menjawab, &#8216;Tidak&#8217;. Beliau bertanya lagi. &#8216;Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari hari-hari besar mereka ?&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;Tidak&#8217;. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8216;Tepatilah nadzarmu karena tidak perlu menepati nadzar di dalam berbuat maksiat kepada Allah dan di dalam hal yang tidak dipunyai (tidak mampu dilakukan) oleh manusia&#8221; [2]</p>
<p>Umar bin Al-Khaththtab Radhiyallahu &#8216;anhu berkata, &#8220;Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka&#8221; [3]</p>
<p>Dia berkata lagi, &#8220;Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka&#8221; [4]</p>
<p>Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu &#8216;anhu, dia berkata, &#8220;Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festifal seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka&#8221; [5]</p>
<p>Keempat.<br />
Merayakan hari-hari besar orang-orang kafir juga dilarang karena alasan-alasan yang banyak sekali, di antaranya :</p>
<p>[a]. Menyerupai mereka dalam sebagian hari besar mereka mengandung konsekwensi bergembira dan membuat mereka berlapang dada terhadap kebatilan yang sedang mereka lakukan.</p>
<p>[b]. Menyerupai mereka dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat lahiriah akan mengandung konsekwensi menyerupai mereka pula dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat batiniah yang berupa &#8216;aqidah-aqidah batil melalui cara mencuri-curi dan bertahap lagi tersembunyi.</p>
<p>Dampak negatif yang paling besar dari hal itu adalah menyerupai orang-orang kafir secara lahiriah akan menimbulkan sejenis kecintaan dan kesukaan serta loyalitas secara batin. Mencintai dan loyal terhadap mereka menafikan keimanan sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) ; sebagaimana mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin ; maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim&#8221; [Al-Maidah : 51]</p>
<p>Dan firmanNya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih saying dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya&#8221; [Al-Mujadillah : 22]</p>
<p>Kelima.<br />
Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan di atas, maka tidak boleh hukumnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, mengadakan perayaan-perayaan hari-hari besar yang tidak ada landasannya dalam dien Islam, termasuk diantaranya pesta &#8216;Milenium&#8217; rekaan tersebut. Juga, tidak boleh hadir pada acaranya, berpartisipasi dan membantu dalam pelaksanaannya dalam bentuk apapun karena hal itu termasuk dosa dan melampaui aturan-aturan Allah sedangkan Allah sendiri terlah berfirman, &#8220;Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya&#8221; [Al-Maidah : 2]</p>
<p>Keenam.<br />
Seorang Muslim tidak boleh saling tolong menolong dengan orang-orang kafir dalam bentuk apapun dalam hari-hari besar mereka. Di antara hal itu adalah mempromosikan dan mengumumkan hari-hari besar mereka, termasuk pesta &#8216;milenium&#8217; rekaan tersebut. Demikian pula, mengajak pada hal itu dengan sarana apapun baik melalui mass media, memasang jam-jam dan pamflet-pamflet bertuliskan angka, membuat pakaian-pakaian dan plakat-plakat kenangan, mencetak kartu-kartu dan buku-buku tulis sekolah, memberikan diskon khusus pada dagangan dan hadiah-hadiah uang dalam rangka itu, kegiatan-kegiatan olah raga ataupun menyebarkan symbol khusus untuk hal itu.</p>
<p>Ketujuh<br />
Seorang Muslim tidak boleh menganggap hari-hari besar orang-orang kafir, termasuk pesta Milenium rekaan tersebut sebagai momentum-momentum yang membahagiakan atau waktu-waktu yang diberkahi sehingga karenanya meliburkan pekerjaan, menjalin ikatan perkawinan, memulai aktifitas bisnis, membuka proyek-proyek baru dan lain sebagainya. Tidak boleh dia meyakini bahwa hari-hari seperti itu memiliki keistimewaan yang tidak ada pada hari selainnya karena hari-hari tersebut sama saja dengan hari-hari biasa lainnya, dan karena hal ini merupakan keyakinan yang rusak yang tidak dapat merubah hakikat sesuatu bahkan keyakinan seperti ini adalah dosa di atas dosa, kita memohon kepada Allah agar diselamatkan di terbebas dari hal itu.</p>
<p>Kedelapan<br />
Seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar orang-orang kafir karena hal itu merupakan bentuk kerelaan terhadap kebatilan yang tengah mereka lakukan dan membuat mereka bergembira, karenanya Ibnu Al-Qayyim berkata &#8221; Adapun mengucapkan selamat terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar keagamaan orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat dalam rangka hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan &#8216;Semoga hari besar ini diberkahi&#8217; atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut. Dalam hal ini, kalaupun pengucapnya lolos dari kekufuran akan tetapi dia tidak akan lolos dari melakukan hal yang diharamkan. Hal ini sama posisinya dengan bilamana dia mengucpkan selamat karena dia (orang kafir) itu sujud terhadap salib. Bahkan, dosa dan kemurkaan terhafap hal itu lebih besar dari sisi Allah ketimbang mengucapkan selamat atas minum khamr, membunuh jiwa yang tidak berdosa, berzina dan semisalnya. Banyak sekali orang yang tidak memiliki sedikitpun kadar dien pada dirinya terjerumus ke dalam hal itu dan dia tidak menyadari jeleknya perbuatannya. Maka, siapa saja yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena suatu maksiat, bid&#8217;ah atau kekufuran yang dilakukannya, berarti dia telah mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Allah&#8221;</p>
<p>Kesembilan.<br />
Adalah suatu kehormatan bagi kaum Muslimin untuk berkomitmen terhadap sejarah hijrah Nabi mereka, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang disepakati pula orang para sahabat beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam secara ijma&#8217; dan mereka jadikan kalender tanpa perayaan apapun. Hal itu kemudian diteruskan secara turun temurun oleh kaum Muslimin yang datang setelah mereka, sejak 14 abad yang lalu hingga saat ini. Karenaya seorang Muslim tidak boleh mengalihkan penggunaan kalender Hijriah kepada kelender umat-umat selainnya, seperti kalender Masehi ini ; karena termasuk perbuatan menggantikan yang lebih baik dengan yang lebih jelek. Dari itu kami wasiatkan kepada seluruh saudara-saudara kami, kaum Muslimin, agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-sebenar takwa, berbuat ta&#8217;at dan menjauhi kemaksiatan terhadapNya serta saling berwasiat dengan hal itu dan sabar atasnya.</p>
<p>Hendaknya setiap Mukmin yang menjadi penasehat bagi dirinya dan antusias terhadap keselamatannya dari murka Allah dan laknatNya di dunia dan Akhirat berusaha keras di dalam merealisasikan ilmu dan iman, menjadikan Allah semata sebagai Pemberi petunjuk, Penolong, Hakim dan Pelindung, karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Cukuplah Rabbmu sebagai Pemberi Petunjuk dan Penolong serta berdo&#8217;alah selalu dengan do&#8217;a Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berikut ini.</p>
<p>&#8220;Artinya : Ya, Allah, Rabb Jibril, Mikail, Israfil. Pencipta lelangit dan bumi. Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib dan nyata. Engkau memutuskan hal yang diperselisihkan di antara para hambaMu, berilah petunjuk kepadaku terhadap kebenaran yang diperselisihkan dengan idzinMu, sesungguhnya Engkau menunjuki orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus&#8221; [6]</p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.</p>
<p>Wa Shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi</p>
<p>[Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta, No. 21049, tgl. 12-08-1420]</p>
<p>[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]<br />
__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Dikelaurkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210. Sunan Abu Daud, kitab Ash-Shalah No. 1134, Sunan An-Nasa&#8217;i, Kitab Shalah Al-Iedain, No. 1556 dengan sanad yang shahih.<br />
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Daud, Kitab Al-Aiman Wa An-Nadzar, No. 3313 denan sanad shahih.<br />
[3]. Dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqy No. 18640<br />
[4]. Ibid No. 18641<br />
[5]. &#8216;Aun Al-Ma&#8217;bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512<br />
[6]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya, Kitab Shalah Al-Musafirin, No. 770</p>
<p>sumber online : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1263/slash/0" target="_blank">almanhaj.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/fatwa/hukum-perayaan-menyambut-tahun-baru/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UCAPAN SELAMAT NATAL</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/fatwa/ucapan-selamat-natal</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/fatwa/ucapan-selamat-natal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 03:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang hukum mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Dan bagaimana kita menjawab orang yang mengucapkan natal kepada kita? Apakah boleh mendatangi tempat-tempat yang menyelenggarakan perayaan ini? Apakah seseorang berdosa jika melakukan salah satu hal tadi tanpa disengaja? Baik itu sekedar basa-basi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang hukum mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Dan bagaimana kita menjawab orang yang mengucapkan natal kepada kita? Apakah boleh mendatangi tempat-tempat yang menyelenggarakan perayaan ini? Apakah seseorang berdosa jika melakukan salah satu hal tadi tanpa disengaja? Baik itu sekedar basa-basi atau karena malu atau karena terpaksa atau karena hal lainnya? Apakah boleh menyerupai mereka dalam hal ini?</p>
<p>Jawaban<br />
“Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan ucapan selamat natal atau ucapan-ucapan lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama mereka hukumnya haram, hukum ini telah disepakati. Sebagaimana kutipan dari Ibnul Qayyim dalam bukunya Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, yang mana beliau menyebutkan, Adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran secara khusus, disepakati hukumnya haram. misalnya, mengucapkan selamat atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, ‘Hari yang diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’ dan sebagainya. Yang demikian ini, kendati si pengucapnya terlepas dari kekufuran, tapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan, yaitu setara dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib, bahkan dosanya lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina atau lainnya, karena banyak orang yang tidak mantap agamanya terjerumus dalam hal ini dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Barangsiapa mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan, bid’ah atau kekufuran, berarti ia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah.’ Demikian ungkapan beliau.<span id="more-292"></span></p>
<p>Haramnya mengucapkan selamat kepada kaum kuffar sehubungan dengan hari raya agama mereka, sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayyim, karena dalam hal ini terkandung pengakuan terhadap simbol-simbol kekufuran dan rela terhadap hal itu pada mereka walaupun tidak rela hal itu pada dirinya sendiri. Kendati demikian, seorang muslim diharamkan untuk rela terhadap simbol-simbol kekufuran atau mengucapkan selamat terhadap simbol-simbol tersebut atau lainnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meridhainya, sebagaimana firmanNya.</p>
<p>“Artinya : Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [Az-Zumar: 7]</p>
<p>Dalam ayat lain disebutkan,<br />
“Artinya : Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu ” [Al-Ma'idah : 3]<br />
.<br />
Maka, mengucapkan selamat kepada mereka hukumnya haram, baik itu ikut serta dalam pelaksanaannya maupun tidak.</p>
<p>Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya kita tidak menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, bahkan hari raya itu tidak diridhai Allah Swt, baik itu merupakan bid’ah atau memang ditetapkan dalam agama mereka. Namun sesungguhnya itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam, yaitu ketika Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk semua makhluk, Allah telah berfirman,</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. ” [Ali Imran : 85)]</p>
<p>Haram hukumnya seorang muslim membalas ucapan selamat dari mereka, karena ini lebih besar dari mengucapkan selamat kepada mereka, karena berarti ikut serta dalam perayaan mereka.</p>
<p>Juga diharamkan bagi kaum muslimin untuk menyamai kaum kuffar dengan mengadakan pesta-pesta dalam perayaan tersebut atau saling bertukar hadiah, membagikan gula-gula, piring berisi makanan, meliburkan kerja dan sebagainya, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalafah Ashab al-Jahim menyebutkan, “Menyerupai mereka dalam sebagian hari raya mereka menyebabkan kesenangan pada hati mereka, padahal yang sebenarnya mereka dalam kebatilan, bahkan bisa jadi memberi makan pada mereka dalam kesempatan itu dan menaklukan kaum lemah.” Demikian ucapan beliau.</p>
<p>Barangsiapa melakukan di antara hal-hal tadi, maka ia berdosa, baik ia melakukannya sekedar basa-basi atau karena mencintai, karena malu atau sebab lainnya, karena ini merupakan penyepelean terhadap agama Allah dan bisa menyebabkan kuatnya jiwa kaum kuffar dan berbangganya mereka dengan agama mereka.</p>
<p>Hanya kepada Allah-lah kita memohon agar memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka, menganugerahi mereka keteguhan dan memenangkan mereka terhadap para musuh. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.</p>
<p>[Al-Majmu' Ats-Tsamin, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 3]</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Disusun oleh Khalid Al-Juraisy,Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/fatwa/ucapan-selamat-natal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

