<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Tokoislam.info &#187; Bid&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://blog.tokoislam.info/category/bidah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tokoislam.info</link>
	<description>kumpulan artikel bermanfaat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 03:17:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Apakah Tasbeh Bid&#8217;ah?</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/bidah/apakah-tasbeh-bidah</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/bidah/apakah-tasbeh-bidah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 09:18:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan:  Disebutkan dalam hadits, &#8220;Setiap bid&#8217;ah itu sesat&#8221; yang artinya bahwa tidak ada bid&#8217;ah kecuali itu pasti sesat, dan tidak ada bid&#8217;ah hasanah karena setiap bid&#8217;ah itu sesat .. Pertanyaannya: Apakah tasbeh dianggap bid&#8217;ah? Dan apakah tasbeh termasuk bid&#8217;ah hasanah (baik) atau dhalalah (sesat)?   Jawaban: 
Tasbeh bukan bid&#8217;ah agama, karena seseorang tidak bermaksud [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Ibnu Utsaimin<br />
Pertanyaan:  Disebutkan dalam hadits, &#8220;Setiap bid&#8217;ah itu sesat&#8221; yang artinya bahwa tidak ada bid&#8217;ah kecuali itu pasti sesat, dan tidak ada bid&#8217;ah hasanah karena setiap bid&#8217;ah itu sesat .. Pertanyaannya: Apakah tasbeh dianggap bid&#8217;ah? Dan apakah tasbeh termasuk bid&#8217;ah hasanah (baik) atau dhalalah (sesat)?   Jawaban: <span id="more-305"></span><br />
Tasbeh bukan bid&#8217;ah agama, karena seseorang tidak bermaksud beribadah kepada Allah dengan tasbeh, akan tetapi bermaksud menghitung dengan tepat bilangan tasbih, tahlil, tahmid atau takbir yang diucapkannya. Jadi tasbeh ini hanya merupakan perantara, bukan tujuan.  Tapi yang lebih utama adalah bertasbih dengan mengguna-kan jari-jari tangannya karena alasan-alasan berikut:  Pertama: Bahwa jari-jari itu kelak akan disuruh berbicara sebagaimana yang dtunjukkan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam .  Kedua: Bahwa bilangan tasbih atau lainnya dengan menggunakan tasbeh bisa menyebabkan seseorang lengah. Kadang kita saksikan banyak orang yang menggunakan tasbeh mengucapkan tasbih tapi matanya melirik ke sana kemari, karena mereka telah mengandalkan biji-biji tasbeh itu untuk menghitung bilangan tasbih, tahlil, tahmid atau takbir yang dikehendakinya. Dan kita dapati sebagian mereka menghitungnya dengan biji-biji tasbeh sementara hatinya lengah, mereka terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini akan berbeda jika mereka menghitungnya dengan jari tangan, karena biasanya akan lebih mengkonsentrasikan hati.  Ketiga: Bahwa menggunakan tasbeh bisa mendatangkan riya&#8217;. Kita jumpai sebagian orang yang senang banyak bertasbih mengalungkan tasbeh-tasbeh panjang di leher mereka dengan jumlah biji-bijinya yang banyak, dengan begitu seolah-olah lisan mereka mengatakan, &#8216;lihatlah kepada kami, kami memuji Allah dengan bilangan biji-biji yang banyak ini.&#8217; Astaghfirullah, saya tidak bermaksud menuduh mereka demikian, tapi saya mengkhawatirkan demikian.  Ketiga hal ini harus dihindari oleh orang yang bertasbih menggunakan tasbeh, dan hendaknya ia bertasbih, mensucikan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dengan jari-jari tangannya.  Kemudian dari itu, bahwa menghitung bilangan tasbih itu dengan mengunkaan jari-jari tangan kanan, karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menghitung bilangan tasbih dengan tangan kanannya, dan tidak diragukan lagi bahwa yang kanan lebih baik daripada yang kiri. Karena itu, menggunakan tangan kanan lebih utama daripada menggunakan tangan kiri. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun pernah melarang seorang laki-laki makan atau minum dengan tangan kirinya, dan pernah pula beliau menyuruh seseorang makan dengan tangan kanannya, beliau bersabda,<br />
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ<br />
&#8220;Nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat kamu.&#8221; [1]  Dalam sabda lainnya beliau menyebutkan,<br />
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ<br />
&#8220;Apabila salah seorang kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan menggunakan tangan kanannya, dan apabila ia minum, maka hendaklah minum dengan menggunakan tangan kanannya. Karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan menggunakan tangan kirinya.&#8221; [2]  Karena itu, menggunakan tangan kanan untuk menghitung bilangan tasbih lebih utama daripada menggunakan tangan kiri, hal ini sebagai pelaksanaan mengikuti As-Sunnah dan lebih mendahulukan yang kanan. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat senang mendahulukan yang kanan dalam mengenakan sandal, memulai langkah dan dalam bersuci serta hal-hal lainnya. Dengan demikian, bertasbih dengan menggunakan tasbeh tidak dianggap bid&#8217;ah dalam agama, karena yang dimaksud bid&#8217;ah yang terlarang itu adalah bid&#8217;ah dalam perkara agama, sedangkan bertasbih dengan menggunakan tasbeh hanyalah merupakan perantara untuk menghitung bilangan dengan tepat. Jadi hanya merupakan perantara yang marjuh. Namun demikian lebih utama menghitung bilangan tasbih dengan menggunakan jari tangan.<br />
_________ Footnote: [1] HR. Al-Bukhari dalam Al-Ath&#8217;imah (5376). Muslim dalam Al-Asyribah (2022). [2] HR. Muslim dalam Al-Asyribah (2020).<br />
Rujukan: Nur &#8216;ala Ad-Darb, hal. 68, Syaikh Ibnu Utsaimin. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.<br />
Kategori: bid&#8217;ah Sumber: http://fatwa-ulama.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/bidah/apakah-tasbeh-bidah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bid’ah Dalam Timbangan Islam</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/bidah/bid%e2%80%99ah-dalam-timbangan-islam</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/bidah/bid%e2%80%99ah-dalam-timbangan-islam#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 01:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca yang di  muliakan oleh Allah ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggalkan kita di atas tuntunan yang jelas, tuntunan yang terang berderang, di atas petunjuk yang sempurna. Hal ini telah di tegaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:
اَلْيَوْمَ  أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ  الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para pembaca yang di  muliakan oleh Allah <em>ta’ala</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah meninggalkan kita di atas tuntunan yang jelas, tuntunan yang terang berderang, di atas petunjuk yang sempurna. Hal ini telah di tegaskan oleh Allah <em>ta’ala</em> dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">اَلْيَوْمَ  أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ  الإسْلامَ دِينًا</p>
<p><em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.”</em> (QS. al-Maidah: 3)</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan kesempurnaan syariat dan bahwasanya syariat ini telah mencukupi segala keperluan yang dibutuhkan oleh makhluk.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan nikmat Allah yang paling besar, yaitu ketika Allah menyempurnakan agama bagi manusia sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain islam, tidak membutuhkan seorang nabi pun selain nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Karena itulah Allah <em>ta’ala</em> mengutus beliau sebagai nabi penutup para nabi dan mengutus beliau kepada  manusia dan jin. <strong>Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang di syariatkan-Nya</strong>.” (Tafsir Ibnu Katsir, dinukil  dari <em>‘Ilmu Usul Bida’</em>, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, 17)</p>
<p>Begitu pula Nabi kita <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" align="right">تَرَكْتُكُمْ  عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا  هَالِكٌ</p>
<p><em>“Aku tinggalkan kalian dalam suatu keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.”</em> (HR. Ahmad)<span id="more-247"></span></p>
<p>Juga sabdanya,</p>
<p class="arab" align="right">مَا بَقِيَ  شَيْءٌ يُقّرِبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُتَاعِدُ عَنِ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ  لَكُمْ</p>
<p><em> “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.”</em> (HR. Thabrani)</p>
<p>Sahabat Abu Dzar al-Ghifari berkata:</p>
<p class="arab" align="right">تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُ لَنَا عِلْمًا</p>
<p>“Rasulullah wafat meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang terbang di udara melainkan beliau telah mengajarkan ilmunya kepada kami.” (HR. Thabrani)</p>
<p>Bahkan hal ini juga dipersaksikan oleh musuh-musuh islam yakni akan kebenaran dan kesempurnaan agama islam ini. Seorang yahudi berkata kepada Salman Al Farisi (dengan nada mengejek): “Nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu hingga cara buang hajat!”. Salman menjawab (dengan penuh bangga): “Benar, beliau telah melarang kami untuk menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil, dan beliau melarang kami untuk istinja’ dengan menggunakan tangan kanan dan istinja’ dengan kurang dari tiga batu atau istinja’ dengan kotoran atau tulang.” (HR. Muslim)</p>
<p>Begitu pula yang menjadi akidah para ulama ahlussunnah, Imam Malik berkata, “Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru (bid’ah) di dalam agama ini sedangkan ia menganggap baik perbuatan tersebut maka sungguh ia telah menuduh Nabi Muhammad telah berbuat khianat, karena Allah <em>ta’ala</em> telah berfirman, <em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.”</em> (QS. al-Maidah: 3). <strong>Maka perkara yang pada hari ayat ini diturunkan bukan  agama maka sekarang juga bukan merupakan agama</strong>.” (<em>Al-I’tishom</em>,  1/49, dinukil dari <em>‘Ilmu Usul Bida’</em>, 20)</p>
<p>Maka berdasarkan keterangan di atas, bisa kita ambil kesimpulan betapa sempurnanya syariat islam, sehingga penambahan atau pengurangan atas syariat islam  tanpa dalil dari al-Qur’an atau as-Sunnah menunjukkan pelecehan terhadap syariat, tindakan kriminal agama dari pelakunya yang secara tidak langsung pelakunya menganggap bahwa syariat islam ini belum sempurna, <em>waliya’udzu  billah</em>.</p>
<p>Perbuatan yang tidak  ada tuntunannya dalam syariat islam dikenal dengan nama <strong>bid’ah</strong>.</p>
<p><strong>Makna Bid’ah</strong></p>
<p>Secara bahasa, bid’ah berarti segala sesuatu yang terjadi atau dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya, hal ini sebagaimana Firman Allah <em>ta’ala</em>:</p>
<p class="arab" align="right">مَا  كُنتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ</p>
<p><em> “Katakanlah:  Aku bukanlah rasul <strong>yang pertama</strong> di antara rasul-rasul.”</em> (QS. Al Ahqaf: 9)</p>
<p>Yakni, tidaklah aku adalah orang yang pertama kali diutus,  namun sebelumku telah di utus beberapa rasul.</p>
<p>Adapun definisi bid’ah secara istilah syar’i adalah sebagaimana di jelaskan oleh Imam Asy-Syatibi, “Bid’ah adalah suatu metode di dalam beragama yang di ada-adakan menyerupai syariat, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>subhanahu  wa ta’ala</em> sedangkan tidak ada padanya dalil syar’i yang shahih dalam asal  atau tata cara pelaksanaannya.” (<em>Al I’tisham</em>: 1/37, dinukil dari <em>‘ilmu  Usul Bida’</em>, 24)</p>
<p><strong>Hukum Bid’ah</strong></p>
<p>Setiap bid’ah adalah kesesatan, setiap bid’ah membawa pelakunya kepada perbuatan dosa, perbuatan kesesatan dan menodai syariat islam yang mulia dan sempurna ini. Bukankah sesuatu yang sempurna jika ditambah atau dikurangi akan merusak kesempurnaannya? Bukankah sebuah bola yang sudah bulat sempurna jika kita tambahi atau kurangi malah akan merusak keindahannya??</p>
<p>Perbuatan bid’ah adalah kesesatan walaupun orang-orang menganggap perbuatan tersebut adalah kebaikan, sebagaimana perkataan sahabat Abdullah Ibnu Umar,</p>
<p class="arab" align="right">كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً</p>
<p>“Setiap bid’ah adalah kesesatan meskipun manusia  menganggap perbuatan tersebut adalah kebaikan.”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" align="right">مَنْ أَحْدَثَ  فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em> “Barangsiapa  yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama ini tanpa ada tuntunannya maka  amalannya tersebut tertolak.”</em> (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Juga dalam sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" align="right">كُلُّ بِدْعَةٍ  ضَلاَلَةٌ</p>
<p><em> “Setiap  bid’ah adalah kesesatn.”</em> (HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>Faedah</strong></p>
<p>Bid’ah yang tercela dalam islam adalah perbuatan bid’ah dalam syariat islam, yaitu melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan dengan alasan ibadah padahal tidak ada dalil atas hal tersebut atau dalil yang menjadi sandarannya adalah hadits yang lemah, tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hukum. Sehingga apabila ada seseorang melakukan suatu perbuatan yang baru akan tetapi tidak dalam rangka beribadah kepada Allah <em>ta’ala</em> maka perbuatan tersebut bukanlah disebut sebagai bid’ah yang tercela akan tetapi disebut bid’ah secara bahasa, dan perbuatan tersebut boleh.</p>
<p>Misalnya seseorang ingin melaksanakan puasa khusus pada hari selasa saja tanpa hari lainnya, sedangkan puasa adalah ibadah, ia melaksanakan puasa tersebut tanpa ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabatnya, maka puasa yang ia lakukan adalah bid’ah yang diharamkan oleh islam. Adapun jika seseorang melakukan perbuatan yang berkaitan dengan dunia seperti membuat kendaraan tipe baru yang belum ada contoh sebelumnya, atau membuat kebiasaan baru, maraton setiap hari Rabu pagi dan seterusnya maka tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut adalah boleh.</p>
<p>Semoga bermanfaat…</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Sa’id  Satria Buana<br />
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/bidah/bid%e2%80%99ah-dalam-timbangan-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Bidah Hasanah?</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/bidah/adakah-bidah-hasanah</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/bidah/adakah-bidah-hasanah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 04:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan: 
 Apa pengertian bid&#8217;ah dan apa kriterianya? Adakah bid&#8217;ah hasanah? Lalu apa makna sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , 
مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً
&#8220;Barangsiapa yang menempuh kebiasaan yang baik di dalam Islam&#8230;&#8221; [1]
  
Jawaban: 
Pengertian bid&#8217;ah secara syar&#8217;i intinya adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari&#8217;atkan Allah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Ibnu Utsaimin</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Pertanyaan:</span></strong><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN"> Apa pengertian bid&#8217;ah dan apa kriterianya? Adakah bid&#8217;ah hasanah? Lalu apa makna sabda Nabi</span></em> Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span lang="IN">, </span></p>
<p class="MsoNormal">مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Barangsiapa yang menempuh kebiasaan yang baik di dalam Islam&#8230;&#8221; [1]</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Jawaban:</span></strong><span id="more-16"></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pengertian bid&#8217;ah secara syar&#8217;i intinya adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari&#8217;atkan Allah. Bisa juga anda mengatakan bahwa bid&#8217;ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi </span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span lang="IN">dan tidak pula oleh para Khulafaur Rasyidin. Definisi pertama disimpulkan dari firman Allah </span>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala <span lang="IN">,</span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">&#8220;Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari&#8217;atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah.&#8221;</span></em><span lang="IN">(Asy-Syura: 21).</span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sedangkan definisi kedua disimpulkan dari sabda Nabi </span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span lang="IN">,</span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal">عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَ<span>هْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَاْلأُمُوْرَ الْمُحْدَثَاتِ</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa&#8217;ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan.&#8221;[2]</span></p>
<p>Jadi, setiap yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari&#8217;atkan Allah atau dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span lang="IN">dan Khulafa&#8217;ur Rasyidin, berarti ia pela-ku bid&#8217;ah, baik ibadah itu berkaitan dengan Asma&#8217; Allah dan sifat-sifatNya ataupun yang berhubungan dengan hukum-hukum dan syari&#8217;at-syari&#8217;atNya. Adapun perkara-perkara biasa yang mengi-kuti kebiasaan dan tradisi, maka tidak disebut bid&#8217;ah dalam segi agama walaupun disebut bid&#8217;ah secara bahasa. Jadi yang demiki-an ini bukan bid&#8217;ah dalam agama dan tidak termasuk hal yang diperingatkan oleh Rasulullah </span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span lang="IN">. Di dalam agama tidak ada yang disebut bid&#8217;ah hasanah. Adapun sunnah hasanah adalah perbuatan yang sesuai dengan syari&#8217;at, dan hal ini mencakup; seseorang yang memulai melakukan sunnah atau memulai melakukan suatu amal yang diperintahkan atau kembali melakukannya setelah meninggalkannya atau melakukan sesuatu yang memang disunnahkan sebagai perantara pelaksanaan ibadah yang diperintah-kan. Yang demikian ini ada tiga kategori:</span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Pertama: </span></strong><span><span lang="IN">Artinya adalah sunnah secara mutlak, yakni yang memulai suatu amal yang diperintahkan. Inilah sebab munculnya hadits tersebut, di mana Nabi </span></span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span><span lang="IN">menganjurkan untuk bersedekah kepada orang-orang yang datang kepada beliau, karena mereka saat itu sedang dalam kondisi sangat kesulitan, lalu beliau menganjurkan untuk bersedekah. Kemudian datang seorang laki-laki Anshar dengan membawa sekantong perak yang cukup berat di  tangannya, lalu ia meletakkannya di kediaman Nabi </span></span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span><span lang="IN">, kemudian Nabi </span></span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span><span lang="IN">bersabda,</span></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal">مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Barangsiapa yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya.&#8221;[3]</span></p>
<p>Laki-laki tersebut adalah yang melakukan sunnah karena memulai melakukan amal tersebut, bukan berarti memulai membuat amalan baru.<span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Kedua: </span></strong><span lang="IN">Sunnah yang ditinggalkan kemudian seseorang melakukannya dan menghidupkannya. Yang demikian ini disebut melakukan sunnah yang artinya menghidupkannya, tapi bukan berarti membuat amalan baru yang berasal dari dirinya sendiri.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Ketiga: </span></strong><span lang="IN">Melakukan sesuatu sebagai perantara pelaksanaan perintah yang disyari&#8217;atkan, seperti membangun sekolah, mence-tak buku agama dan sebagainya. Yang demikian ini bukan berarti beribadah dengan amalan tersebut, akan tetapi amalan tersebut sebagai perantara untuk melaksanakan perintah yang terkait. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Semua itu termasuk dalam cakupan sabda Nabi </span>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam <span lang="IN">, </span></p>
<p class="MsoNormal">مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&#8220;Barangsiapa yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya.&#8221;[4]</span></p>
<p>Tentang masalah ini telah dibahas secara luas di kesempatan lain.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="ES">Sumber:</span></strong><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES">Al-Majmu&#8217; Ats-Tsamin, juz 1, hal. 29-30, syaikh Ibnu Utsaimin.</span><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES">Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.</span><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal">[1] HR. Muslim dalam Az-Zakah (1017), dan dalam Al-&#8217;Ilm (1017).<br />
[2] HR. Abu Dawud dalam As-Sunnah (4607). Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (42).<br />
[3] HR. Muslim dalam Az-Zakah (1017).<br />
[4] HR. Muslim dalam Az-Zakah dan Al-&#8217;Ilm (1017).</p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Sumber</strong>: http://fatwa-ulama.com</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/bidah/adakah-bidah-hasanah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amal Dikatakan Sebagai Bidah</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/bidah/amal-dikatakan-sebagai-bidah</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/bidah/amal-dikatakan-sebagai-bidah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 04:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[
Syaikh Ibnu Baz
 Bilakah suatu amal dianggap bidah dalam syariat nan suci ini, dan apakah sebutan bidah hanya berlaku pada bidang ibadah saja atau mencakup ibadah dan muamalah?

Jawaban:
Bid&#8217;ah dalam terminologi syari&#8217;at adalah setiap ibadah yang diada-adakan oleh manusia tapi tidak ada asalnya dalam Al-Qur&#8217;an maupun As-Sunnah, demikian ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Syaikh Ibnu Baz</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bilakah suatu amal dianggap bidah dalam syariat nan suci ini, dan apakah sebutan bidah hanya berlaku pada bidang ibadah saja atau mencakup ibadah dan muamalah?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Jawaban:<span id="more-13"></span></p>
<p class="MsoNormal">Bid&#8217;ah dalam terminologi syari&#8217;at adalah setiap ibadah yang diada-adakan oleh manusia tapi tidak ada asalnya dalam Al-Qur&#8217;an maupun As-Sunnah, demikian ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ,</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">&#8220;Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.&#8221;(Disepakati keshahihannya: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718)).<span> </span>Dan sabda beliau,</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Barangsapa melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak&#8221;(Al-Bukhari menganggapnya mu&#8217;allaq dalam Al-Buyu&#8217; dan Al-I&#8217;tisham. Disambungkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718)).<span> </span>Pengertian bid&#8217;ah dalam terminologi bahasa adalah setiap hal baru yang tidak seperti sebelumnya, hanya saja tidak berkaitan dengan hukum larangan jika bukan merupakan hal baru dalam agama. Sedangkan dalam mu&#8217;amalat, jika hal baru itu sesuai dengan syari&#8217;at maka termasuk legal secara syar&#8217;i, tapi jika menyelisihinya maka merupakan perbuatan batil, dan hal baru dalam mu&#8217;amalat tidak disebut bid&#8217;ah dalam lingkup syari&#8217;at karena tidak termasuk ibadah.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber: Majalah Ad-Da&#8217;wah, tanggal 7/11/1410 H. nomor 1344, Syaikh Ibnu Baz. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Sumber: http://fatwa-ulama.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/bidah/amal-dikatakan-sebagai-bidah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
