<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Tokoislam.info &#187; Aneka</title>
	<atom:link href="http://blog.tokoislam.info/category/aneka/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tokoislam.info</link>
	<description>kumpulan artikel bermanfaat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 03:17:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cara Nabi Disihir dan Perangainya Pada Saat Disihir</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/aneka/cara-nabi-disihir-dan-perangainya-pada-saat-disihir</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/aneka/cara-nabi-disihir-dan-perangainya-pada-saat-disihir#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aneka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/2009/01/03/cara-nabi-disihir-dan-perangainya-pada-saat-disihir/</guid>
		<description><![CDATA[Cara Nabi Disihir dan Perangainya Pada Saat Disihir
Syaikh Shalih Al-Fauzan
Pertanyaan: Apakah benar bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam disihir; jika memang benar, bagaimana sikap beliau terhadap sihir dan terhadap siapa yang menyihirnya?   Jawaban:
Benar, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah disihir. Dari Aisyah -rodliallaahu&#8217;anha- bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam disihir sehingga terbayang seolah-olah beliau melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cara Nabi Disihir dan Perangainya Pada Saat Disihir<br />
Syaikh Shalih Al-Fauzan<br />
Pertanyaan: Apakah benar bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam disihir; jika memang benar, bagaimana sikap beliau terhadap sihir dan terhadap siapa yang menyihirnya?   Jawaban:<span id="more-319"></span><br />
Benar, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah disihir. Dari Aisyah -rodliallaahu&#8217;anha- bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam disihir sehingga terbayang seolah-olah beliau melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya. Beliau mengatakan kepadanya pada suatu hari, bahwa:  &#8220;Dua malaikat datang kepada beliau lalu salah satu dari keduanya duduk di sisi kepalanya dan yang lainnya di sisi kedua kakinya. Salah satu dari keduanya bertanya kepada yang lain, &#8216;Bagaimana keadaannya?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Ia disihir.&#8217; Dia bertanya, &#8216;Siapa yang menyihirnya?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Labid bin al-A&#8217;sham.&#8217; Dia bertanya, &#8216;Pada apa?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Pada sisir dan buntalan rambut dalam sebuah mayang kurma di sumur Dzarwan.&#8217;&#8221; [1]  Ibnul Qayyim berkata, &#8220;Segolongan manusia mengingkari hal ini. Kata mereka, ini tidak boleh terjadi atas beliau. Mereka menyangkanya sebagai kekurangan dan aib. Perkaranya bukan sebagaimana yang mereka duga, bahkan ini sejenis perkara yang dapat berpengaruh kepada beliau seperti penyakit. Ini adalah salah satu penyakit dan menimpanya sihir ini kepada beliau seperti beliau terkena racun, tidak ada perbedaan di antara keduanya.&#8221;  Ia menyebutkan dari Qadhi &#8216;Iyadh yang mengatakan, &#8220;Sihir ini tidak menodai kenabiannya. Adapun yang terbayang pada beliau bahwa seolah-olah beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya, maka tidak ada dalam hal ini sesuatu yang mempengaruhi beliau sedikit pun, berdasarkan dalil dan ijma&#8217; atas keterjagaan beliau dari hal ini. Sihir tersebut hanya bisa mempengaruhinya dalam urusan dunianya, yang mana beliau tidak diutus untuknya dan tiada kelebihan karenanya. Beliau dalam hal ini bisa mendapatkan penyakit seperti manusia lainnya. Jadi, tidak mustahil bila seolah-olah terbayang pada beliau dari perkara-perkara dunia yang tiada hakikatnya. Kemudian beliau terbebas darinya sebagaimana sedia kala.&#8221;  Ketika beliau mengetahui bahwasanya beliau disihir, beliau memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala supaya ditunjukkan tempat sihir tersebut. Kemudian beliau mengeluarkannya dan membatalkannya, lalu lenyaplah sihir yang menimpanya sehingga seakan-akan beliau lepas dari ikatan. Beliau tidak menghukum orang yang menyihirnya. Bahkan ketika para sahabat berkata kepada beliau, &#8220;Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak menangkap orang yang keji itu untuk kita bunuh?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Adapun aku maka Allah telah menyembuhkanku, dan aku khawatir bila hal itu berpengaruh buruk kepada orang lain.&#8221; [2]<br />
Footnote: [1] HR. Al-Bukhari dalam ad-Da&#8217;awat, no. 6391; Muslim dalam as-Salam, no. 2189; Ahmad, no. 23826 dan lafal ini dari riwayatnya. [2] HR. Al-Bukhari dalam ad-Da&#8217;awat, no. 6391; Muslim dalam as-Salam, no. 2189; Ahmad, no. 23826 dan lafal ini dari riwayatnya selain lafal, &#8221; Mengapa kita tidak menangkap orang yang keji itu untuk kita bunuh?&#8221;<br />
Rujukan: Al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, jilid 2, hal. 57-58. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/aneka/cara-nabi-disihir-dan-perangainya-pada-saat-disihir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ADAKAH ISI DAN KULIT DALAM AJARAN ISLAM?</title>
		<link>http://blog.tokoislam.info/aneka/adakah-isi-dan-kulit-dalam-ajaran-islam</link>
		<comments>http://blog.tokoislam.info/aneka/adakah-isi-dan-kulit-dalam-ajaran-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 04:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aneka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuubaidah.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali
Islam adalah agama yang bagian-bagiannya saling melengkapi. Jalan Allah yang ikatan-ikatannya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum Muslimin tidak boleh mengikuti orang-orang Yahudi yang mengimani sebagian Al-kitab dan mengingkari sebagian lainnya.
Allah Ta’ala berfirman.
“Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali</p>
<p>Islam adalah agama yang bagian-bagiannya saling melengkapi. Jalan Allah yang ikatan-ikatannya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum Muslimin tidak boleh mengikuti orang-orang Yahudi yang mengimani sebagian Al-kitab dan mengingkari sebagian lainnya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” [Al-Baqarah : 85]</p>
<p>Termasuk bid’ah yang merebak pada zaman ini, yaitu anggapan sebagian orang yang membagi Islam menjadi “kulit dan isi”, atau “kuliyat dan juz-iyyat”, atau “bentuk dan isi”, atau “ushul dan furu”, atau “bagian luar dan ruh”. Lalu mereka menyepelekan bagian agama yang dianggapnya sebagai kulit atau juz’iyyat, atau bentuk semata.</p>
<p>Memang sebagian ulama ada yang menggunakan istilah ushul (pokok) dan furu’ (cabang) dalam menjelaskan ajaran Islam, tetapi mereka tidak bermaksud meremehkan furu’, apalagi meninggalkannya. Tetapi istilah itu untuk menunjukkan nilai pentingnya. Karena semua bagian agama Islam ini penting, namun nilai pentingnya tidaklah satu derajat</p>
<p>Adapun orang-orang yang memiliki anggapan sebagaimana di atas, sebagian besar mereka kemudian tidak menaruh perhatian terhadap syi’ar-syi’ar yang lahiriyah, yang mereka anggap sebagai kulit. Bahkan menuduh orang yang berpegang dengannyan sebagai orang yang menyibukkan diri dengan perkara cabang, dan orang yang mendakwahkannya dianggap mengobarkan perselisihan dan perpecahan. Sehingga mereka mementahkan berbagai masalah yang dikaji secara ilmiah dengan anggapan, bahwa itu merupakan masalah cabang dan diperselisihkan oleh umat.<span id="more-222"></span></p>
<p>Anggapan ini tentu saja tidak diterima oleh agama yang mulia ini. Hal ini dapat ditinjau dari beberapa sisi.</p>
<p>Pertama : Ayat-Ayat al-Qur’An Dengan Tegas Dan Jelas Memerintahkan Agar Kaum Muslimin Berpegang Dengan Islam Secara Total.</p>
<p>Diantaranya Allah Azza wa Jalla berfirman.<br />
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan” [Al-Baqarah : 208]</p>
<p>Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata pada tafsir ayat ini : “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, yang mempercayai Rasul-Nya, agar mereka memegangi seluruh ikatan-ikatan dan syari’at-syari’at Islam, dan mengamalkan seluruh perintah-perintahnya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangannya semampu mereka”</p>
<p>Setelah Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara total. Dia memperingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.</p>
<p>“Dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” [Al-Baqarah : 208]</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa hanya ada dua jalan saja, yaitu masuk ke dalam Islam secara total, atau mengikuti jalan-jalan setan yang memerintahkan untuk memisah-misahkan syari’at-syari’at Allah dan meremehkan sebagiannya.</p>
<p>Kedua : Hadits-Hadits Menunjukkan Bahwa Perkara-Perkara Yang Mereka Anggap Sebagai Cabang Atau Kulit Itu Memiliki Hubungan Yang Kuat Dengan Pahala Yang Besar, Kedudukan Yang Mulia, Dan Kenikmatan Abadi.</p>
<p>Di antaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Jika imam berkata “ghairil magh-zhubi ‘alaihim walazh-zhallin”, maka katakanlah “amin”, karena sesungguhnya barangsiapa perkataannya bertepatan perkataan para malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu” [HR Bukhari no 782, Muslim no. 410, dari Abu Hurairah]</p>
<p>Demikian juga hadits-hadits menjelaskan bahwa perkara-perkara yang mereka anggap cabang itu merupakan tonggak kemuliaan dan tetapnya agama ini memperoleh kemenangan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Agama ini selalu nampak nyata (menang) selama orang-orang (Islam) menyegerakan berbuka, karena sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashara mengakhirkan (berbuka)” [HR Abu Dawud no. 2353, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani]</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak hanya mementingkan perkara-perkara besar, kemudian tersibukkan dari perkara-perkara yang mereka anggap perkara kecil.</p>
<p>“Dari Aisyah –semoga Allah meridhainya-, yaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memberitakan bahwa beliau membeli bantal duduk yang padanya terdapat gambar-gambarnya (makhluk bernyawa, -pent). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihatnya, beliau berdiri di depan pintu, tidak masuk. ‘Aisyah melihat ketidaksukaan pada wajah Rasulullah. ‘Aisyah berkata : “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dosa apakah yang telah aku lakukan?” Beliau bersabda : “Apa pentingnya bantal duduk ini?” Aisyah menjawab : “Aku membelinya agar Anda duduk padanya dan menggunakannya sebagai bantal” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat. Dan akan dikatakan kepada mereka : ‘hidupkan apa yang telah ciptakan”, dan beliau bersabda : “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (patung-patung) tidak akan dimasuki oleh para malaikat” [HR Bukhari no. 5957]</p>
<p>Ketiga : Fatwa-Fatwa Ulama Menjelaskan Tentang Kebatilan Pembagian Tersebut</p>
<p>Antara lain fatwa Syaikh ‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah, beliau berkata : “Tidak boleh mengistilahkan syari’at dengan “kulit”, karena di dalam syari’at itu terdapat banyak manfaat dan kebaikan. Bagaimana perintah ketaatan dan keimanan merupakan “kulit”? Sesungguhnya ilmu yang disebut dengan “hakikat” adalah satu bagian dari ilmu syari’at. Dan tidak menggunakan istilah-istilah ini kecuali orang yang dungu, celaka dan kurang ajar. Seandainya dikatakan kepada salah seorang dari mereka : “Sesungguhnya perkataan syaikh (guru) mu itu “kulit”, pastilah dia mengingkarinya dengan keras. Namun dia menyebut “kulit” terhadap syari’at! Sedangkan syari’at itu hanyalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Maka orang jahil (bodoh) tersebut perlu dihukum dengan hukuman yang pantas dengan dosanya ini” [Fatawa Izz bin Abdis Salam, halaman 71-72]</p>
<p>Dengan ini semua jelaslah bahwa wajib memegangi Islam secara total, yakni mencakup kehidupan individu dan masyarakat. Syari’at Islam tidak meninggalkan perkara-perkara kecil, apalagi yang besar ; semua dijelaskan. Dengan demikian, Islam merupakan bangunan yang tinggi dan sempurna, dengan fondasi yang kuat dan kokoh.</p>
<p>Kemudian dari pembagian yang tidak benar ini, yaitu beranggapan agama itu terdiri dari kulit dan isi, sebagian tokoh-tokoh kelompok Islam, seperti Syaikh Hasan Al-Bana, membangun kaidah lemah yang membolehkan terjadinya perpecahan umat. Yaitu kaidah :</p>
<p>“Kita saling menolong dalam perkara yang kita sepakati, dan saling toleransi dalam perkara yang kita berselisih padanya”.</p>
<p>Kemudian kaidah ini menjadi ketetapan pasti yang dibacakan kepada para pengikutnya. Dengan kaidah ini, mereka menentang setiap dakwah yang mengajak untuk bersatu di atas kalimat yang haq dan menentang penjelasan menurut Sunnah Nabi, tentang sikap terhadap para ahli bid’ah yang mengikuti hawa nafsu.</p>
<p>Kaidah ini pertama kali dibuat oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah, kemudian beliau memandangnya sebagai kaidah yang rusak, sehingga beliau berlepas diri darinya. Namun Syaikh Hasan Al-Bana mengambilnya dan mendengungkannya. Dan kaidah yang rusak ini juga digunakan oleh Ikhwanul Muslimin untuk melakukan pendekatan dengan Syi’ah Rafidhah!</p>
<p>Seandainya kaidah ini diterapkan, pasti ajaran Islam akan rontok satu persatu, karena :</p>
<p>1). Perselisihan antar umat Islam terjadi sampai dalam perkara aqidah dan prinsip-prinsip. Oleh karena inilah umat berpecah-belah menjadi banyak kelompok. Maka orang yang memberikan toleransi perselisihan seperti ini, berarti dia membenarkan apa yang dilarang oleh Allah.</p>
<p>2). Kaidah ini tidak memiliki landasan dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan pemahaman Salafush Shalih. Bahkan manhaj Salaf bertentangan dengan kaidah rusak ini.</p>
<p>3). Seandainya kita praktekkan kaidah ini, pasti akan terbuka kerusakan yang sangat besar. Karena berarti kita memberikan toleransi kepada orang-orang yang menyerukan pemahaman wihdatul wujud [1], pemahaman Khawarij, nikah mut’ah, thawaf di kuburan, tawasul dengan orang-orang yang telah mati, mengingkari sifat-sifat Allah, pemahaman Jabariyah, dan kesesatan-kesesatan lainnya.</p>
<p>4). Hasil kaidah ini adalah kebalikan dari kemauan pembuatnya. Kemauan pembuatnya ialah untuk menghentikan perselisihan antar umat Islam. Namun kenyataan menunjukkan, bahwa kaidah ini menjadi sebab bertambahnya perselisihan dan perpecahan. Oleh karena itulah para ulama pada zaman ini memfatwakan batilnya kaidah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Dr. Hamd ‘Utsman –haizhahullah- di dalam kitabnya, Zajrul Mutahawun bi Dharari Qaidah Al-Ma’dzirah wat Ta’awun, halaman 123-133.</p>
<p>Sesungguhnya kebaikan itu hanyalah dengan kembali kepada agama yang mulia ini dalam segala bidangnya sesuai dengan kemampuan. Wallahul Musta’an.</p>
<p>[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]<br />
_________<br />
Footnote<br />
[1]. Suatu pemahaman rusak yang dikafirkan oleh para ulama. Yaitu anggapan bahwa wujud hanyalah satu ; makhluk bersatu dengan sang Khaliq.</p>
<p><a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2454/slash/0" target="_blank">almanhaj.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.tokoislam.info/aneka/adakah-isi-dan-kulit-dalam-ajaran-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
