
Meskipun menggunakan lebel Islam, menurut Dwi, tidak mempersempit pasar. “Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim,” katanya. Tokoislam.info memiliki omzet rata-rata di atas Rp 50 juta. Menjelang Lebaran, omzet itu melonjak hingga Rp 70 juta.
Label Islam Menjelajah Dunia Maya
Teknologi informasi yang berkembang sangat terbuka untuk diberi muatan tertentu. Warna Islam pun dipoleskan. Maka muncullah situs-situs Islam di jagat internet.
Dunia internet seperti belantara tanpa batas. Beragam informasi terserak di dalamnya. Sehingga dengan satu kata kunci, maka akan tersaji jutaan informasi. Misalnya, tuliskan kata “Islam”. Maka mesin pencari Google akan menyediakan 268 juta data dalam 0,16 detik. Sementara, Yahoo menyajikan 362 juta. Wow!
Dari sekian juta informasi yang tersedia dengan kilat itu, apakah seluruhnya “halal”? Karena, meskipun kata kuncinya Islam, ketika diklik ternyata berisi informasi yang menyesatkan tentang Islam. Bahkan anti-Islam. Berangkat dari keprihatinan banyaknya informasi yang “tercemar”, maka sejak tahun lalu sekelompok anak muda membuat mesin pencari di internet yang dijamin halal.
Yufid.com memberikan solusi terhadap pencari informasi tentang keislaman di dunia maya agar tidak terjebak informasi yang menyesatkan. Yufid, bahasa Arab, yang artinya memberikan faidah atau memberi manfaat. “Ini semua karena kecintaan pada dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan Islam,” kata Hendri Syahrial, Direktur Yufid.com.
Menurut Hendri, belum ada lembaga atau wadah untuk pendidikan Islam yang benar-benar gratis dan mudah diakses semua kalangan. “Padahal, pendidikan sudah menjadi salah satu komoditas bisnis saat ini,” katanya. Ia hanya mengetahui adanya Khan Academy yang digagas Salman Khan yang sesuai dengan pendidikan Islam. Ini tertuang di khanacademy.org atau khan-academy.appspot.com.
Maka dia tergerak untuk membuat portal pencari informasi Islam. Untuk urusan teknis, hanya butuh tiga bulan untuk merancang situs Yufid.com. Sekitar dua minggu kemudian, terkumpullah 100 website sebagai basis data. Pada Mei 2010, setelah ide dan konsep dimiliki, dia pun me-launch Yufid.com. Dan pada awal berdirinya, yaitu awal 2010, tim Yufid berjumlah empat orang. Sekarang sudah berjumlah 16 orang.
Sementara Yufid.com adalah situs bikinan lokal, Google sendiri telah mengeluarkan situs www.theislamicsearch.com. Mesin pencari ini merupakan media penelisik yang semua kontennya hanya pada konten Islami. Memiliki banyak menu, di antaranya adalah pencarian web, image, book, dan news. Dia juga terhubung dengan beberapa website Islam, yakni www.islamonline.net, www.islamway.com, www.islam2all.com, www.islamweb.net, www.islamguide.com, dan lain-lain.
Ada juga www.searchforislam.com, sebuah situs pencari dengan menyediakan kata-kata yang sangat populer tentang Islam. Sehingga memudahkan dalam melihat konten kata-kata yang sering dicari, dan tinggal mengklik jika menginginkan konten sesuai dengan kata-kata yang tersedia.
Untuk video, bisa menggunakan www.tubeislam.com. Situs ini khusus untuk pencarian-pencarian yang berkonten Islami, sehingga kita tidak bingung dalam mencari video-video tentang Islam. Pelanggan bisa menjadi anggota dan dapat meng-upload video-video yang berkonten Islam.
Selain pencari informasi, para jurnalis portal pun tidak segan mengibarkan panji-panji Islam. Itu ditandai dengan kehadiran eramuslim.com. Berdiri sejak 1 Agustus 2000, eramuslim.com hadir sebagai media berita online Islam pertama di Indonesia. Dalam usianya yang ke-11, eramuslim.com telah dibaca oleh pengunjung yang berasal dari 123 negara.
Negara-negara tersebut di antaranya adalah Indonesia, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Jepang, Mesir, Arab Saudi, dan Australia. Eramuslim.com berkantor di Cibubur Time Square Blok 3/01 Cibubur. Gatra sempat menemui Mashadi, Pimimpin Redaksi Eramuslim.com. Di depan kantornya, pria berjanggut berbalut busana koko putih itu menyambut Gatra.
Mantan anggota Komisi I DPR-RI dari Partai Keadilan itu bercerita mengenai awal berdirinya media online tersebut. “Eramuslim didirikan oleh sejumlah wartawan dari beberapa media Islam yang semangatnya ingin memiliki sarana media,” katanya. Pada saat awal berdiri, menurut Mashadi, kehadiran eramuslim.com itu lebih kepada konten berita.
“Updating berita eramuslim.com juga sangat cepat. Kami cover seluruh peristiwa yang terjadi di seluruh dunia, terutama berita-berita yang tidak di-publish media lain. Misalnya, peristiwa di Mesir saat ini, yang sifatnya secara inside,” jelas pria kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 12 November 1952, itu.
Fokus pemberitaan eramuslim.com memang yang berkaitan dengan Islam. Namun secara konten, berita tersebut masih didominasi oleh berita perkembangan Islam di luar negeri. Sebanyak 70% konten berita berasal dari berita asing, dan sebanyak 30% berasal dari dalam negeri.
Awalnya, hanya ada beberapa rubrik yang ada dalam eramuslim.com. Selain berita, rubrik lainnya adalah rubrik Ustadz Menjawab, dan Konsultasi Syariah dan Keluarga. Namun kini rubriknya berkembang hingga 70 rubrik. Dengan lebih banyak rubrik, maka segmen yang dibidik pun berbeda. Misalnya, rubrik untuk muslimah, pemuda, atau mahasiswa. Sehingga dengan ada segmentasi baru ini akan lebih sesuai dengan kepentingan pasar.
Menurut Mashadi, sistem pengelolaan media online relatif simpel jika dibandingkan dengan media lain yang berbasis kertas. Toh, dia akui, kesulitan memang dirasakan ketika awal kemunculan eramuslim.com. Kesulitan itu dirasakan terutama berkaitan dengan teknologi informasi (TI), dan bagaimana membuat format tampilan atau displai eramuslim.com.
Kemunculan eramuslim.com di media online Islami seperti angin segar untuk memicu kemunculan media serupa. “Eramuslim.com yang ada lebih dulu dan gagas media (Islami –Red.) online,” katanya. Kini berkembang menjadi momentum bagi generasi media online. Beberapa media Islam juga menjalankan generasi online ini, seperti versi online majalah Hidayatullah, Republika.co.id, serta format online Voice of Islam.
Selain mesin pencari dan berita Islam, para “pedagang” di portal pun tidak segan-segan mengusung bendera Islam. Bukannya mempersempit pasar, justru di negera yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, label Islam bisa menjadi pemikat. Misalnya, Ilham Maulana dengan e-Salim.com. Toko online berbasis Islam itu hadir sejak Maret 2008.
Fokus awal penjualan e-Salim saat itu adalah menjual buku-buku Islami. Sebab, kata Ilham, berdasarkan riset yang ia lakukan melalui internet, sarana belanja buku Islami saat itu cukup sulit. Baik itu bagi mereka yang berdomisili di Jakarta maupun di daerah. Apalagi kala itu bisnis toko online juga belum terlalu banyak.
Ilham memulai bisnis online-nya dengan modal awal Rp 4,3 juta. Modal itu dia gunakan untuk domain dan hosting sebesar Rp 700.000 per bulan dan membeli modem seharga Rp 600.000. Sedangkan untuk pembatas buku sebagai hadiah, ia membutuhkan dana sebesar Rp 3 juta. “Total modal Rp 4,3 juta. Karena untuk personal computer kami punya sendiri,” katanya.
Ilham mengaku, niatnya berbisnis online tidak semata-mata demi urusan fulus. “Selain sisi materi, tentu ada sisi dakwah karena menggunakan produk muslim,” katanya. Sebab, produk yang diperjualbelikannya harus sesuai dengan syariat Islam.
Selain e-Salim, “pedagang” portal bernapaskan Islam adalah Tokoislam.info. Menurut Dwi Yanto, toko portal sangat irit tenaga. Pegawainya hanya satu orang, yaitu dia sendiri ( Kami ralat bahwa pegawai 1 di luar pemilik). Toko yang berdiri sejak sejak 2009 itu mampu menghasilkan omset hingga 70 juta. “Bisnis via internet peluangnya sangat terbuka serta dengan modal yang minimal menghasilkan laba yang maksimal,” kata Dwi Yanto.
Dengan latar belakang penguasaan IT, bisnis online ini memadukan kerja dan hobi. Biaya yang dikeluarkan cukup irit. “Per bulan tidak sampai 500 ribu,” katanya. Saat pertama kali di luncurkan responsnya sangat lumayan. Namun, sekarang sudah banyak website serupa. “Kalau sekarang sudah sangat banyak,” katanya.
Dengan persaingan yang cukup ketat, maka terpenting sekarang bagaimana memelihara pelanggan. Profil pelanggan Tokoislam.info dari pekerja kantoran hingga ibu rumah tangga yang rata-rata mengakses internet setiap hari. “Jadi yang penting sekarang bagaimana ”menyimpan” pelanggan itu,” katanya.
Meskipun menggunakan lebel Islam, menurut Dwi, tidak mempersempit pasar. “Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim,” katanya. Tokoislam.info memiliki omzet rata-rata di atas Rp 50 juta. Menjelang Lebaran, omzet itu melonjak hingga Rp 70 juta.
Jagat game atau permaian juga tidak luput dari bidikan muatan Islam. Salah satunya Islamic Playground. Beralamat di www.islamicplayground.com, sejumlah fitur game menarik bisa dimainkan di ini. Misalnya, untuk memperkenalkan huruf Hijaiyah, permainan puzzle, dan permainan simulasi lainnya.
Game Islam itu untuk membantu untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak. Melalui situs ini, anak-anak bisa belajar akidah dengan games kuis. Sehingga melalui kuis itu, tanpa terasa meningkatkan pengetahuan anak tentang Islam.
Rohmat Haryadi, Andya Dhyaksa, Birny Birdieni, dan Rach Alida Bahaweres